Wednesday, January 19, 2011

Kisah Perbetonan di Indonesia


by Iswandaru for everyone

Seminar Tahunan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) di Jakarta beberapa waktu lalu mengangkat topik yang relevan dengan kondisi bangsa Indonesia menghadapi fenomena bencana alam. Topik yang diangkat adalah pengaruh gempa dan angin terhadap struktur. Fenomena bencana alam khususnya gempa bumi yang beberapa tahun terakhir ini sering mengguncang negara kita telah membuat para ahli konstruksi perlu meninjau kembali teknik konstruksi di tanah air.

Relevansi topik kedua yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seminar sebagai penghargaan kepada almar­hum Prof R Rooseno Soerjohadikusumo dan men­deklarasikan seminar ini untuk meme­ringati 100 tahun kelahirannya yang jatuh pada 2 Agustus silam.

Prof Dr (HC) Ir R Rooseno yang terkenal sebagai ”Bapak Konstruksi Beton Indone­sia” dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 2 Agustus 1908. Ayah­nya bernama R Roostamadji yang menjabat sebagai patih di Madiun. Beliau menamakan anak keempat dari lima bersaudara ini Rooseno. Roos merupakan panggilan nama sang ayah, sedangkan Seno diambil dari tokoh wayang purwa Bratasena.

Rooseno melewatkan masa kecilnya di kota kelahirannya, Madiun, dan dibesar­kan oleh ibu tirinya, Raden Ayu Martinah. Rooseno kecil kerap mengamati jembatan besi buatan pemerintah kolonial Hindia-Belanda di atas kali Madiun. Ia sangat kagum terhadap jembatan besi yang dibuat silang menyilang bisa kuat dilintasi beberapa gerbong kereta api.

Mengubah Pikiran

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Technische Hochschul Bandung (cikal bakal Institut Teknologi Bandung), ia mendapat pujian dari Prof Dr Brezenot yang mengatakan bahwa ”mestinya orang Jawa tidak mungkin bisa menguasai ilmu meka­nika”. Tetapi nyatanya Rooseno mampu mengubah pikiran orang Belanda tersebut. Rooseno merupakan satu-satu­nya bumi putra (orang pribumi) di antara 12 mahasiswa yang lulus dari Technische Hoch­schul Bandung pada tanggal 1 Mei 1932 dengan predikat Summa Cum Lau­de (de­ngan pujian sangat memuaskan).
Rooseno mengawali kariernya dengan berwiraswasta di Bandung, mendirikan Bi­ro Insinyur Rooseno dan Soekarno (Pre­siden RI pertama) di Jalan Banceuy pada tahun 1933. Kemudian pada tahun 1935 Rooseno bekerja di Departemen van Verkee en Waterstaat. Di tempat ini Rooseno berhasil menyakinkan atasannya untuk mengutamakan penggunaan beton dalam pembangunan jembatan di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). Alasannya, bahan-bahan dasar beton, seperti pasir, batu pecah, dan kayu pecah dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia sehingga biaya pengadaannya akan masuk ke kantong dan menyejahterakan rakyat.

Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat dua tahun mengajar di ITB sampai awal kemerdekaan. Pada 1 April 1944, Rooseno diangkat menjadi guru besar (kyodju) bidang ilmu beton di Bandung Kogyo Daigaku. Rooseno kemudian hijrah ke Yogyakarta dan di kota Gudheg ini ia tercatat sebagai salah seorang diantara pendiri dan Dekan Fakultas Teknik yang pertama Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pada tahun 1948, Rooseno pindah ke Jakarta, mendirikan Kantor Consulting Engineer. Pada tanggal 26 Maret 1949 ia diangkat menjadi guru besar luar biasa ilmu beton di Universiteit van Indonesia, Fa­kulteit van Technische Watenschap di bandung. Sebagai warga negara yang baik, ia juga menyalurkan aspirasi politiknya dan terlibat aktif di Partai Indonesia Raya pada tahun 1950. Sepanjang kariernya, Rooseno pernah tiga kali menjadi menteri, yakni Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL), Menteri Perhubungan dan Menteri Perekonomian.

Sebagai ilmuwan dan pendidik, ia tetap menggeluti dunia pendidikan hingga ia menjadi Guru besar di ITB dan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, juga Direktur Sekolah tinggi Teknik Nasional di Jakarta. Selama ini sebagai ahli beton bertulang, ia telah banyak menangani berbagai proyek penting seperti jembatan plataran Monas berukuran 45 meter X 45 meter yang dirancang dengan sistem prategangan Freyssi­net, jembatan Semanggi di Jakarta berbentang 50 meter, pelabuhan, gedung pencakar langit dan hotel berbintang. Rooseno juga gemar menulis, tak kurang 33 karya dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Pada tahun 1954, Rooseno menulis buku ajar beton pertama dalam bahasa Indonesia. Beton patekan mulai diperkenalkan di Indonesia oleh Rooseno melalui kuliahnya di ITB dan melalui tulisan-tulisannya dalam majalah Insyinyur Indonesia tahun 1959-an.

Di kalangan perbetonan internasional, Rooseno dikenal sebagai anggota Associ­ation for Bridge and Structural Engineering (IBSE) di Zurich, Swiss, dan Federation International de Preconfreinne (FIP).

Di tanah air, Rooseno mengetuai Tim Rehabilitasi dan pemugaran Candi Boro­budur di Magelang, Jawa tengah tahun 1972 dengan bantuan Unesco dan Interna­tional Consultative Commitee yang ang­gotanya terdiri dari para ahli pemugaran dari Jepang, Amerika Serikat, Belgia, Jer­man dan Indonesia sebagai tuan rumah.

Pemugaran Candi

Pekerjaan pemugaran meliputi pembongkaran dua juta batu dan arca, pema­sang­an pelat-pelat fondasi beton serta sistem”pipa drainase”, dan pemasangan kembali batu dan arca di tempat semula. Pe­nanganan kestabilan lereng bukit Boro­budur oleh dua konsultan Unesco dinilai bertele-tele dan tidak tuntas pada tahun 1975.

Rooseno segera membentuk tim pelaksana teknis baru yang terdiri dari Prof Wiratman, Ir Aziz Djaya­putra, Ir FX Toha dan Ir Indrajati Sidi. Setelah tim tersebut di­setujui oleh International Consultative Commitee, pekerjaan fisik pemugaran candi dimulai pada tanggal 27 April 1976. Pemugaran Candi Borobudur selesai dan diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 23 Februari 1983.

Sepanjang kariernya Rooseno pernah menduduki sejumlah jabatan penting di antaranya, Badan Penasehat Teknis Pem­bangunan (BPTP) DKI dan Gabungan Pelaksana Nasional Seluruh Indonesia (Gapensi) yang beranggotakan lebih dari 30.000 pemborong. Ia seang menyebut dirinya sebagai ”dukun beton” karena ba­nyak pemborong yang datang me­merlukan tenaganya dalam menghadapi persoalan gawat.

Rooseno menikah dengan Raden Ayu Oentari dan pasangan ini dikaruniai enam orang anak dan 18 cucu. Beliau juga menjadi Direktur Utama 3 perusahaan yang di­dirikan, yakni Biro Insyinyur Exacta, NV Freyssinet Indonesia Ltd, dan Biro Oktroi Patent Rooseno.

Pemerintah Republik Indonesia meng­anugerahi Satya Lancana untuk jasa ikut membangun Kompleks Asian Games Gelora Bung Karno di Senayan pada tahun 1962. Penghargaan lain berupa gelar Doktor Honoris causa untuk ilmu teknik diterimanya dari ITB pada tahun 1977, dan ia juga menerima Bintang Mahaputra Utama bersama dengan almarhum Prof Dr Achmad Baiquni (bidang fisika atom) dan Prof Dr J A Katili (bidang ilmu kebumian) pada tahun 1984.

Dalam kehidupannya yang berkecukupan dan tenang, Rooseno leluasa menjalankan kegemarannya membaca dan mengendarai motor besar 650 cc kebanggaannya. Beliau meninggal dunia pada 15 Juni 1996 dalam usia 88 tahun.

Ditulis oleh: Amien Nugroho (peminat teknologi)

Sumber: Suara Merdeka – Teknologi 13 Oktober 2008

No comments:

Post a Comment

Halaman