Friday, January 21, 2011

More Funding For Green Research

Link

Encana Corporation is supporting efforts by Saint Mary's researcher Dr. Jason Clyburne to develop a safe and inexpensive technology for removing carbon dioxide from industrial gases.

A Saint Mary’s University researcher looking at ways to safely remove carbon dioxide (CO2) from industrial emissions is getting a helping hand from one of the region’s largest offshore players.
Encana Corporation, developers of the Deep Panuke project, has committed $119,000 to help Dr. Jason Clyburne further develop inexpensive designer chemicals - called ionic liquids - which have shown promise for the safe and efficient removal of toxins and environmentally hazardous substances from industrial processes such as burning coal.
“The affordable removal of carbon dioxide from gaseous industrial emissions is one of the holy grails in climate change research,” said Dr. Clyburne. “With Encana’s support, and earlier support by GreenCentre Canada (GCC) and Springboard Atlantic, we can now move from the lab and develop a prototype to see if what we think works, actually does.”
Earlier this year GreenCentre Canada, a national Centre of Excellence for developing and commercializing early-stage Green Chemistry discoveries, awarded Dr. Clyburne $25,000 in Proof of Principle funding toward the commercialization of his ionic liquids. Saint Mary’s partnership with GCC was further leveraged with the success of a second award of $30,000 from Springboard’s Proof of Concept and Patent and Legal funds.
Saint Mary’s University Industry Liaison Officer Gina Funicelli says the University is pursing patent protection that will lead to a license that puts the technology into the hands of industry to help curb, or even eliminate, CO2 emissions from their manufacturing processes.
Ionic liquids are specialized compounds that can trap CO2 from waste streams using much less energy than traditional scrubbing technologies. The CO2 can then be separated from the ionic liquid and stored, allowing the ionic liquid to be recycled to remove additional CO2 from the waste stream. Some ionic liquids are made up from tried and tested commodity chemicals that are inexpensive and easy to access, says Dr. Clyburne.
“If it’s not going to lead to an affordable solution in real life, what’s the point?
The move from beaker to breaking ground with an industrial demonstration unit could take three years. Along the way he said post doctorate and undergraduate students will become experienced in working with greenhouse gases, a vital skill in continuing to develop relevant chemistry to solve environmental problems.
Dr. Clyburne, who is also a Canada Research Chair in Environmental Studies and Materials, said the effort dovetails nicely with the The Maritimes Centre for Green Chemistry, recently established by the University to enhance the undergraduate research experience in Green discovery science.
“There are many environmentally relevant problems that can be solved using green chemistry. If we are successful, this will be a good demonstration that often the simplest solutions are the best ones,” he said.
Encana is financing the work as part of commitment to the province to create spin-off benefits from its Deep Panuke project by funding research, development, education and training.
READ MORE - More Funding For Green Research

Wednesday, January 19, 2011

Batagama, Beton Nonpasir Temuan Tim Teknik Sipil UGM

YOGYAKARTA, SABTU - Tim Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil menemukan beton nonpasir yang diberi nama batagama. Selain mudah dibuat, bobotnya ringan, kedap suara, dan meloloskan air.

"Beton nonpasir adalah bentuk sederhana dari beton ringan yang pembuatannya tidak menyertakan pasir," kata Koordinator Tim Ir Kardiyono Tjokrodimulyo pada peresmian bangunan ruang pamer dari beton nonpasir di Dusun Kemiri Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (26/1).

Kardiyono mengatakan, karena tidak mengandung pasir, maka beton itu menjadi berongga yang bobotnya ringan. Beton nonpasir tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dinding cor, balok dan kolom struktur ringan, buis beton, perkerasan jalan dan barang kerajinan.
"Kelebihannya antara lain proses pembuatan yang mudah, bobot ringan, susutnya sedikit, kedap suara, tekstur permukaan unik dan meloloskan air," katanya.

Beton nonpasir tersebut dibuat dari batuan ringan, hasil muntahan Gunung Merapi yang banyak terdapat di Sungai Boyong. Warga setempat menyebutnya sebagai banthak. "Beton nonpasir ini merupakan penelitian tim yang prosesnya sudah melalui berbagai ujicoba hingga ditemukan batagama," katanya.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Sleman, Ibnu Subiyanto mengatakan penemuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan optimalisasi sumber daya alam.

Menurutnya, saat ini terdapat 25 perajin di Sleman yang menggunakan bahan baku beton nonpasir."Mereka menghasilkan aneka produk seperti pot bunga, tiang penyangga pot, plat dinding, gapura, asbak dan buis beton," kata Ibnu.(ANT/LHW
READ MORE - Batagama, Beton Nonpasir Temuan Tim Teknik Sipil UGM

Beton Anti-retak Dibantu Air Hujan

WASHINGTON, KOMPAS.com - Masalah keretakan pada jalan atau jembatan beton yang sering terjadi jika ada gempa bumi mungkin teratasi dengan material baru yang dikembangkan para peneliti di Universitas Michigan, AS. Material tersebut tidak hanya membuat jalan beton lebih tahan tekanan namun juga anti-retak.

Bahan beton yang dicampur komposit itu menjadi lebih fleksibel. Saat mendapat tekanan yang tinggi, ia mampu melengkung tanpa mengalami keretakan. Kalaupun tejadi, retakannya akan berbentuk garis dan akan pulih dalam waktu singkat hanya dengan doguyur air, termasuk hujan misalnya.

Hal tersebut dapat terjadi karena material kering di bagian yang retak akan bereaksi dengan air hujan dan karbon dioksida dari udara. Reaksi tersebut membentuk kalsium karbonat, senyawa keras yang secara alami biasa ditemukan pada cangkang kerang.

"Material fleksibel ini akan kembali sekuat awalnya setelah dipulihkan," ujar Victor Li, salah satu anggota tim pembuatnya. Ia dan timnya telah 5 tahun melakukan riset beton fleksibel itu dan beberapa sudah digunakan.

Material sejenis sudah dipakai pada kerangka bangunan tertinggi di Osaka, Jepang. Selain itu, beton fleksibel juga sudah dipakai pada jembatan di Interstate 94 Michigan yang dibangun tahun 2006.

Meski demikian, harga beton felsiibel masih tiga kali lipat harga beton standar. Namun, karena lebih tahan tekanan dan getaran, pengembang bisa lebih hemat karena tak perlu memasang alat pendeteksi getaran seismik di sepanjang struktur.

"Penggunaan material ini akan menghemat dalam jangka panjang karena mengurangi ongkos perawatan," ujar L
READ MORE - Beton Anti-retak Dibantu Air Hujan

Dinding Bata Beton Membuat Taman Menjadi Asri

KOMPAS.com - Desain geometris bisa juga Anda terapkan di taman. Kalau tidak sebagai hardscape ya softscape.

Taman mestinya merupakan area yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Untuk membuatnya menjadi seperti itu, taman harus dibuat asri. Dan yang mananya asri itu tak selalu identik dengan taman yang rimbun berbunga-bunga. Taman dengan konsep yang kompak pun bisa menjadi asri.

Padu hunian, taman sepantasnya memiliki komposisi proporsional antara elemen hardscape dan elemen softscape. Sebuah komposisi disebut nyaman, jika kedua elemen hardscape dan softscape itu saling memberikan kekuatan.

Hardscape yang terlalu dominan dapat menigkatkan kesan kaku di taman. Sedangkan softscape yang terlalu banyak justrudapat menghilangkan kesan teritori bangunan yang membatasi ruang taman.

Taman di rumah M. Ibnu Sina ini contohnya. Olahan taman yang didesain oleh tim SUBvisionary relatif simpel. Tak banyak tanaman yang mengisi ruang-ruang taman di area depan rumah. Cukup rumput gajah mini, lidah mertua (Sansevieria sp ), dan Adenium di area pojok kiri rumah.

Softscape yang simpel, tetap terlihat cantik dengan permainan bentuk geometri lantai pijakan berukuran 40cmx40cm yang terbuat dari koral sikat. Pijakan-pijakan berbentuk kotak berjajar ini mengisi bagian tengah "padang" rumput. Kehadirannya memberikan kekuatan ruang pada taman.

Di taman ini, keberadaan jenis tanaman sederhana yang relatif mudah didapatkan terlihat istimewa. Hardscape berupa olahan dinding bata beton yang ditata secara simetris seolah membantu keberadaan sosok tanaman.

Di sini, bata beton dibuat sebagai dinding pembatas taman. Susunannya pun mengambil unsur geometri. Ada celah antarbata sekitar 5cm lebar yang sekaligus seakan menjadi dekorasi dinding. Cahaya lampu sorot diarahkan ke dinding bata beton ini. Suasana sore dan malam pun taman tetap dapat dinikmati keindahannya. (Indra Zaka Permana/iDEA)

READ MORE - Dinding Bata Beton Membuat Taman Menjadi Asri

Habis Genteng Terbitlah Keramik Beton


PURWAKARTA, KOMPAS.com Bangkrutnya puluhan pabrik genteng di sentra industri genteng Tegalwaru dan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, lima tahun terakhir ini, membangkitkan sebagian pengusaha membuat produk baru. Setelah genteng tanah liat kian tak laku, mereka beralih ke keramik beton.

Keramik beton, yang di pasaran terkenal dengan sebutan keraton, menjadi alternatif bahan untuk bangunan bertingkat. Selain lebih murah ongkos dan lebih cepat pemasangannya, keraton juga dinilai lebih tahan getaran dan gempa.

"Ada 4-6 pengusaha yang sekarang memproduksi keraton di sentra ini. Keraton telah diuji coba tahun 1976 dan dikembangkan tahun 1980-an, kian populer beberapa tahun terakhir," ujar Nasan, pemilik pabrik keraton di Desa Cadasmekar, Kecamatan Tegalwaru, Rabu (4/8/2010).

Krisis bahan bakar pascakenaikan harga minyak tahun 2005 memicu rontoknya puluhan pabrik genteng di Purwakarta. Kantor Litbang Genteng dan Bata Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta mencatat, tahun 2004 terdapat 270 unit usaha genteng dengan 13.016 pekerja. Kenaikan harga bahan bakar minyak pada Oktober 2005 menghancurkan puluhan pabrik. Tahun 2006 jumlahnya tinggal 187 unit dan terus menurun hingga 130 unit dengan 3.162 pekerja pada 2009.

Ketika permintaan genteng tanah liat terus menurun seiring semakin maraknya produk atap modern berbahan fiber, plastik, atau beton, sebagian pengusaha mulai mendiversifikasi produk. Mereka antara lain mengembangkan keramik beton, keramik dinding, ubin terakota, dan roster.

READ MORE - Habis Genteng Terbitlah Keramik Beton

Jalan Raya Kini Bisa Serap Polusi Udara

Sumber

VIVAnews - Sejumlah ilmuwan di Eindhoven University of Technology, Belanda tengah mengembangkan beton berlapis titanium dioksida yang dapat menghilangkan nitrogen oksida yang ada di udara.

Nitrogen oksida adalah hasil keluaran dari bensin yang dibakar pada temperatur tinggi, yang terjadi di mesin kendaraan otomotif. Oksida ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, misalnya sesak nafas.

Selain itu, nitrogen oksida juga bertanggungjawab atas masalah lingkungan lainnya, termasuk asap kabut serta kerusakan ozon.

Seperti dikutip dari BrightSideofNews, 15 Agustus 2010, material yang digunakan pada jalanan beton menggunakan sinar matahari untuk mengkonversi nitrogen oksida ke bentuk nitrat yang membersihkan udara.

Titanium dioksida, yang sering ditemukan pada cat, adalah bahan kimia yang mampu membersihkan diri sendiri yang akan merusak algae dan debu, membuat permukaan jalan tetap bersih sambil udara dibersihkan.

Setelah beberapa kali berhasil diujicoba di laboratorium, material itu telah digunakan melapisi sebagian ruas jalan di Hengelo, Belanda. Sebagian jalan dengan luas serupa dibiarkan menggunakan beton biasa, dan kemudian sampel udara di sekitarnya diambil.

Peralatan uji coba membuktikan material baru yang ditemukan tersebut memang membersihkan udara.

Yang menarik, material baru itu juga bisa digabungkan dengan aspal, jika jalan itu tak memakai beton. Tentu biayanya lebih mahal dibandingkan tidak dilapisi material pembersih udara.

Dalam upaya serupa menemukan material yang antipolusi, peneliti asal China mengembangkan polimer berteknologi nano.

Meski pencarian teknologi mengurangi, atau menghilangkan kotoran dari udara terus dilakukan, kita tetap harus mencari cara mengurangi atau menghilangkan sumber polusi.

• VIVAnews
READ MORE - Jalan Raya Kini Bisa Serap Polusi Udara

Peneliti Temukan Semen Terbuat dari Asap

Sumber

VIVAnews - Sebagai seorang mahasiswa biologi kelautan di tahun 1980-an, Brent Constantz terkejut saat menemukan betapa mudahnya batu karang mengubah massa hanya menggunakan air laut. Caranya, mereka mengkombinasikan kalsium dan bikarbonat yang ada di air laut menjadi kalsium karbonat yang mengkristal dan kemudian menjadi eksoskeleton tahan lama.

Constantz lalu menghabiskan dua dekade berikutnya memikirkan cara bagaimana mengaplikasikan trik serupa terhadap tulang manusia. Akhirnya, setelah mendaftarkan 60 hak paten dan mendirikan dua perusahaan, kini tulang buatannya digunakan di seluruh dunia.

Meski demikian, ia tidak berhenti memikirkan batu karang. Akhirnya, pada tahun 2007 ia mendapatkan ide untuk membuat semen jenis lain yang bisa digunakan untuk membangun gedung.

Sama seperti koral, semen dari batu kapur juga mengkristal di air. Jika diberi campuran tambahan seperti pasir atau kerikil, campuran itu akan menjadi beton yang murah namun tahan lama.

Yang jadi masalah, pembuatan semen membutuhkan pemanasan batu kapur hingga 1.400 derajat Celsius. Ini menyebabkan batu kapur mengeluarkan karbondioksida. Hasilnya, menurut US Department of Energy, pabrik semen telah menjadi sumber emisi karbondioksida terbesar di luar konsumsi bahan bakar fosil.

Ironisnya, kebutuhan atas semen kini semakin meningkat, khususnya di negara-negara kekuatan ekonomi baru. Sebagai contoh, di China, per tahun, sekitar 15 juta orang telah bermigrasi dari pedesaaan ke kota, dan berbagai proyek pembangunan terus mengikuti laju migrasi tersebut.

Constantz melihat peluang bahwa produsen semen, dengan meniru trik karang, dapat memenuhi permintaan pasar sekaligus mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepaskan ke atmosfir. Selain itu, mereka juga bisa menyerap bahan baku dari pelepas karbondioksida terbesar di dunia, yakni pembangkit tenaga listrik.

Pada tahun 2009, perusahaan terbaru Constantz, Calera, mulai menerapkan teori ini secara langsung pada sebuah pembangkit listrik berdaya 1.000-megawatt di Moss Landing, California.

Insinyur yang ada di sana menyemprotkan air laut kaya mineral atau air garam ke gas buangan yang ditangkap dari cerobong asap pembangkit listrik itu. Kalsium pada air mengikat karbon yang menjadi sumber polusi dan membentuk semen.

Constantz mengatakan, pabrik percontohan yang ia buat mampu memproduksi hingga 1.100 ton semen per hari dengan memanfaatkan 550 ton karbon dioksida.

“Semua terinspirasi dari makhluk laut yang selama paling tidak 600 juta tahun terakhir telah menyerap karbon dioksida dalam kerangka mereka, yang telah dipadatkan dari waktu ke waktu untuk membentuk batu kapur,” kata Constantz, seperti diberitakan PopSci pada 10 Januari 2010.

Padahal, kata Constantz, batu kapur itu selama ini lalu dipanaskan untuk membuat semen. Jadi, ia menyimpulkan, “Daripada mengubah batu menjadi karbondioksida, mari kita mengubah karbondioksida menjadi batu.” (kd)

• VIVAnews
READ MORE - Peneliti Temukan Semen Terbuat dari Asap

Membangun kemandirian teknologi

Oleh: Harus Laksana Guntur*

Masalah itu adalah anugerah. Kalimat ini seharusnya menjadi semboyan bagi para inovator di negeri ini. Banyaknya masalah yang ada di Indonesia seharusnya membuat para inovator kita semakin produktif dalam menciptakan inovasi di segala bidang.

Kenapa? Karena pada hakekatnya, inovasi adalah ide-ide baru yang muncul seiring dengan adanya keinginan untuk memperbaiki masalah yang ada. Boleh dibilang dari sisi ini(masalah) kita sangat kaya, selain kaya akan sumber daya alam, tentunya.

Salah satu produk inovasi adalah teknologi. Bagi para teknolog, inovasi adalah proses kreasi teknologi baru atau proses pemberian nilai tambah pada teknologi yang sudah ada. Ada tiga faktor penting yang bisa menentukan kemajuan atau kemandirian teknologi dari sebuah negara. Pertama adalah education push factor, kedua adalah industry pull factor dan yang ketiga adalah government policy factor.

Kampus teknik, Industri dan Pemerintah

Tingkat pendidikan masyarakat dalam sebuah negara menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan teknologi. Kemandirian teknologi sebuah negara tidak akan bisa lepas dari tingkat pendidikan masyarakatnya. Dengan kata lain, kemandirian teknologi ditentukan oleh tingkat penguasaan ilmu atau kompetensi para teknolognya.
Berbicara tentang kompetensi teknolog tidak bisa lepas dari kampus teknik sebagai industri pencetak para teknolog.

Di Indonesia, perguruan tinggi yang secara spesifik mendeklarasikan diri sebagai kampus teknik sangat sedikit. Bahkan perguruan tinggi teknik atau institut teknologi negeri di Indonesia hanya ada dua, ITS dan ITB. Sementara jumlah politeknik negeri di Indonesia tidak lebih dari 30.

Memang, fakultas teknik di perguruan tinggi umum atau universitas juga ada. Tapi jumlah ini masih kurang untuk mendorong percepatan
kemandirian teknologi di negeri ini. Peran kampus dan fakultas teknik ini sangat signifikan didalam mencetak seorang teknolog yang handal dan kompetitif. Selain masalah jumlah yang masih sedikit, mutu SDM (dosen dan teknisi) dan ketersediaan fasilitas riset dalam kampus dan fakultas teknik sangat penting.

Indonesia masih membutuhkan ribuan doktor teknik sebagai dosen dan peneliti untuk mempercepat kemandirian teknologi. Inilah yang imaksud dengan education push factor.

Industri yang bersentuhan langsung dengan masyarakat atau pasar juga merupakan faktor penting dalam mendorong perkembangan teknologi. Kemandirian teknologi sebuah negara tidak akan bisa lepas dari response dan responsibility dari para industriawan. Yaitu sensitifitas dan kecepatan industriawan dalam merespon kebutuhan
masyarakat/pasar dan tanggungjawabnya dalam ikut mengembangkan teknologi. Bentuk tanggungjawab ini bisa dituangkan dengan membuat departemen R&D di dalam perusahaan atau dengan memberikan kontribusi pendanaan bagi R&D di perguruan tinggi melalui
kerjasama industri-perguruan tinggi.

Pemerintah sebagai pembuat regulasi menjadi faktor yang paling penting dalam mendorong percepatan kemandirian teknologi dalam sebuah negara. Kemandirian teknologi bisa tercipta karena ada environment atau iklim yang mendukung terciptanya kemandirian teknologi. Kebijakan dalam bentuk regulasi dan anggaran yang berpihak
pada kemandirian teknologi sangat diperlukan.Bagaimana Indonesia bisa mandiri dalam bidang teknologi jika regulasi pemerintah tidak pernah berpihak?

Bercermin pada Jepang
Dulu, Jepang adalah negera dengan banyak masalah. Perang saudara, bom atom di Hiroshima-Nagasaki, minimnya sumber daya alam, gempa, tsunami, banjir dan masalah sampah. Tapi, itu semua justru membuat Jepang bangkit dan mampu menyulap negaranya menjadi negara yang maju dalam segala bidang dan masuk dalam deretan atas negara2
super-ekonomi dunia.

Bahkan, menurut hasil survey the Economist Intelligence Unit yang dilakukan dalam rentang waktu 2002 sampai 2006, dari 82 negara dengan tingkat ekonomi yang boleh dikatakan mapan, Jepang menduduki peringkat tertinggi sebagai negara paling inovatif
mengungguli USA, Swis dan Swedia dalam katagori negara paling inovatif sedunia.
Jumlah paten yang diproduksi oleh sebuah negara per satu juta penduduknya dijadikan standar pengukuran. Dengan jumlah populasi yang hanya 42% dari USA, rasio paten Jepang per satu juta penduduknya tiga kali lebih tinggi dari USA-dan tertinggi bila
dibandingkan negara-negara lainnya.

Pada tahun 2007 sampai 2011, hasil survey memprediksi bahwa peringkat negara innovator dunia masih tidak akan berubah. Hanya saja, Cina yang saat ini menjadi negara investor terbesar kedua dalam dunia riset setelah USA hampir bisa dipastikan akan mengalami percepatan pertumbuhan inovasi dan mengejar Jepang, USA, Swiss dan
Swedia. Sementara negara2 yg tergabung dalam EU diprediksi masih akan tetap tertinggal dengan Jepang dan USA dalam kurun waktu 5 tahun kedepan walau upaya untuk meningkatkan performan inovasinya terus dilakukan.

Tingginya perhatian pemerintah Jepang yang ditunjukkan dengan investasi besar2an pada dunia riset, menjadi faktor penting dalam merangsang tumbunya inovasi di Jepang. Selain itu, negara yang miskin sumber daya alam ini telah lama menerapkan pendekatan “Inovasi atau mati” karena perekonomian jepang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi tinggi. Faktor lainnya adalah telah terciptanya sebuah mutualism symbiotic antara perusahaan besar, perusahaan kecil menengah , akademisi dan pemerintah, ikut menjadi penentu tingginya tingkat inovasi di Jepang.

Dalam sebuah seminar di Tokyo Institute of Technology pada tanggal 21 Juni 2007, yang saya hadir didalamnya, staf ahli menteri pendidikan-perdagangan dan industri
Jepang menjelaskan bahwa salah satu kunci kenapa Jepang bisa menjadi negara innovator terbesar saat ini adalah karena peran aktif dan simbiosis mutualisme yang terjalin antara pemerintah, akademisi dan dunia industri.

Hampir semua perusahaan besar di Jepang memiliki departemen R&D. Kemitraan dengan anak perusahaan, perusahan kecil dan universitas terjalin dengan baik dalam mendorong inovasi di Negara ini. Pemerintah ikut mendorong proses ini dengan menjadikan riset-riset yang bersentuhan dengan hajat hidup dan kemaslahatan orang banyak menjadi proyek negara.

Selain iklim yang sangat kondusif, motivasi akademisi dan peneliti di Jepang sangat tinggi. Hal ini bisa kita lihat dari lamanya jam kerja para akademisi Jepang, yang rata2 diatas 10jam. Kesadaran publik Jepang akan pentingnya riset dan inovasi juga sangat tinggi, dibuktikan dengan banyaknya lembaga riset swadaya masyarakat di Jepang. Ditambah lagi dengan kepekaan mereka terhadap common/global issues yang juga cukup tinggi.

Kampus-kampus di Jepang saat ini berlmba-lomba membentuk departemen kewirausahaan atau venture business yang berusaha mendorong para civitas akademika untuk berkompetisi menciptakan inovasi yang bermuara pada kreasi bidang usaha baru.

*Penulis adalah dosen di Jurusan Teknik Mesin ITS, menyelesaikan master dan doktor
teknik di Tokyo Institute of Technology, Jepang.

READ MORE - Membangun kemandirian teknologi

Concrete as a Sustainable building material


by runeklitgaard

To evaluate a building material whether it’s more sustainable than another, more parameters has to be evaluated and compared.
The different environmental profiles of different products makes it difficult to choose the right product because you often end up with choosing between toxicology vs. energy and these different issues can be difficult to compare. A simple but not always correct solution can be to assess the CO2 emission from the production and handling of the product (grave to consumer) and then keep recyclability, scarce resource, toxicology etc. in mind.

The best way to make a first assessment is to compare the different building materials is to use general data for the products from databases. The general data in the databases gives consistent results and doesn’t rely on the different producers and their different production facilities and energy sources. When using data from the producers’ one has to ensure that the data is equal and can be compared.

Here I present some data from the one of the Danish LCA databases, BEAT2002. BEAT 2002 uses general data to calculate the CO2 emission from different types of building materials. My point is, by looking at data like these it makes it clear that it does make a difference which material you use for your building or construction.

Material Kg CO2/Kg Building material

Asphalt 0.045
Bricks 0.2
Cement 0.82
Concrete 0.134
Concrete steel fibre reinforced 0.45
Glass 0.77
Plastic 2.53
Rubber 3.3
Steel 1.82
Timber 0.476

Reference

From these data it looks like concrete is the most sustainable building material – even more than timber!

READ MORE - Concrete as a Sustainable building material

Beton adalah solusi material hijau

Ridho Bayuaji

Desainer struktur beton tidak memiliki banyak pilihan lagi untuk menghindari meningkatnya tuntutan masyarakat pada bangunan yang berwacana hijau.

Seperti : jembatan yang hijau , terowongan yang hijau, landasan pacu yang hijau dll penulis sepenuhnya setuju bahwa persyaratan beton berkelanjutan adalah salah satu cara depan untuk mengurangi emisi CO2 dari industri beton.

Dengan beton sebagai bahan konstruksi yang paling banyak digunakan di dunia dan bahan yang digunakan akan tumbuh secara alami dengan peningkatan populasi dan kesejahteraan jelas bahwa pengurangan emisi CO2 untuk bahan beton adalah penting.

Lebih dari untuk bahan lain dalam beton, pengurangan emisi CO2 dari produksi semen adalah yang paling penting sebagai rekening hari ini semen sekitar 6-7 % dari total emisi CO2.

Indonesia yang mempunyai jumlah gunung berapi banyak dan akhir-akhir ini beberapa gunung aktif dan memuntahkan letusan abu vulkanik. Letusan abu vulkanik berpotensi dapat menggantikan semen di dalam beton dan berpeluang menyimpan emisi CO2. Tentunya perlu penelitian dengan tingkay

Penulis menghimbau bahwa desainer dalam proyek-proyek masa depan akan berpikir lebih hijau sebelum mereka mulai merancang, termasuk kemungkinan struktural, estetika, pemanfaatan massa termal, membangun-dalam sumber-sumber energi dan sedikit tapi bukan bahan beton terakhir dengan profil hijau, dilihat dalam perspektif siklus hidup.

Jika beton menjadi material solusi hijau karena dapat dibuat dengan mengganti semen dengan bahan pengikat tambahan seperti fly ash, slag atau pozzolans alam / abu vulkanik atau dengan mengganti semen portland dengan geopolimer semen, yang mengandalkan aktivator alkali dan bahan reaktif aluminosilikat. Sebagai tujuan utama pengurangan emisi CO2 sesuai dengan harapan solusi hijau di alam semesta.

READ MORE - Beton adalah solusi material hijau

Vincentius Totok Noerwasito dan Inovasi Batu Bata dari Bahan Alternatif

Sumber

Demi hemat energi, Totok Noerwasito menciptakan berbagai batu bata dari bahan alternatif. Tak hanya dari tanah liat lokal, tapi juga dari aneka limbah seperti kertas, abu tebu, hingga luapan lumpur Sidoarjo. Sayang, belum banyak yang menerapkan.

Berbagai jenis batu bata dipajang di ruang dosen jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSp), ITS. Ada warna hitam, abu-abu, dan putih mangkak. “Yang hitam ini terbuat dari abu tebu, yang abu-abu bisa dari serbuk kayu atau tanah tambak, sedangkan yang putih dari limbah kertas,” jelas Vincentius Totok Noerwasito, dosen mata kuliah struktur di FTSp ITS.

Dialah pembuat batu bata dari berbagai bahan alternatif tersebut. Ilmu itu ia peroleh dari kursus khusus tentang batu bata di sebuah sekolah arsitek di Grenoble, Prancis. “Di situ, saya dapat pengetahuan baru. Bahwa tidak selamanya bata tanah liat harus dibakar. Ada cara lain yang memungkinkan bata kering tanpa dipanaskan dengan api,” papar bapak tiga anak tersebut.

Bahan yang digunakan pun tidak harus tanah liat dari lahan subur sebagaimana umumnya dipakai. Tapi, bisa tanah liat lokal dan material alternatif lain seperti limbah. “Selama ini bahan batu bata adalah tanah liat di lahan subur di desa. Itulah yang antara lain membuat biaya mahal karena ada ongkos transportasi,” katanya.

Padahal, batu bata bisa berbahan tanah liat lokal. Misalnya, tanah liat di Surabaya. “Kalau dibuat di Surabaya dan digunakan di Surabaya misalnya, kan ngirit ongkos,” ujarnya.

Totok sudah mengajukan hak paten atas pembuatan batu bata dari tanah liat lokal itu pada 2002. “Tapi, sampai sekarang (hak paten itu, Red) belum keluar,” katanya. Selain batu bata dari tanah liat lokal, Totok secara bersamaan mematenkan batu bata dari abu tebu.

Penelitian penggunaan tanah liat lokal untuk batu bata itu dimulai tak lama setelah dirinya kembali dari Prancis pada tahun 1990. Ia mencoba tanah di daerah Pandaan. Totok tidak bisa serta-merta menerapkan ilmu yang didapatkan di Prancis.

Ia harus menyederhanakan teknologi pembuatan dan mengubah komposisi bahan. “Harapan saya agar pembuatan batu bata tersebut bisa dikerjakan orang-orang tanpa keahlian. Misalnya, para petani desa, bukan praktisi yang telah mengecap ilmu dari sekolah tinggi,” tegasnya.

Berkali-kali penelitiannya gagal. Mulai campuran yang tidak pas sampai cetakan yang kurang sesuai. Ramuan paten baru ditemukan lima tahun kemudian. Totok mencampur tanah lokal dengan semen dan kapur agar kuat dan dapat kering tanpa pembakaran. “Keringnya hanya diangin-anginkan,” katanya.

Sedangkan cetakannya, setelah bereksperimen dengan bermacam bahan, ternyata bahan besi paling efisien. “Saya membuatnya dengan ukuran standar internasional,” ujarnya. Totok juga menjadikan penelitian tersebut sebagai bahan tesis untuk meraih gelar magister bidang manajemen konstruksi di ITS.

Setahun setelah itu, ranah penelitiannya lebih luas. Yakni, batu bata dari limbah. Totok mencoba abu tebu sisa pabrik gula. Abu tebu adalah abu dari ampas tebu yang dipakai sebagai bahan bakar di pabrik gula. “Selama ini, abu tebu hanya jadi sampah. Ditumpuk begitu saja hingga memakan lahan pabrik,” ungkapnya.

Ia mengambil sampel abu dari Pabrik Gula Candi, Sidoarjo, dan pabrik gula di daerah Mojokerto. Ia bekerja sama dengan putra sulungnya, Arya Nurakumala, 26, serta pembuat bata asal Jebon, Mojokerto.

Menggunakan ramuan dan teknik temuannya, Totok berhasil menciptakan batu bata dari abu tebu. “Batu bata itu kuat. Saya tes tekan kekuatannya mencapai 40 kg/cm2. Saya coba taruh di luar dan kena air hujan selama berminggu-minggu, tidak keropos,” tegas Totok sembari menunjukkan batu bata warna hitam.

Ketika bencana lumpur di Sidoarjo meruap pada tahun 2006, Totok juga mencobanya sebagai bahan batu bata. Namun, bata dari lumpur itu banyak kendala. Salah satunya, komposisi lumpur yang terlalu banyak mengandung clay dan teksturnya lebih halus.

Hal itu membuat lumpur susah dicampur semen dan kapur. Bahannya terlalu lengket dan lama keringnya. Kalaupun kering, kekuatan masing-masing berbeda. Totok sempat membuat contoh bangunan dari bata lumpur itu berupa bangunan kecil seperti gardu di belakang FTSP ITS. Ternyata, kualitasnya tidak begitu bagus.

Bata lumpur gampang keropos oleh air. Meski begitu, bata tersebut memiliki sisi keunggulan. “Bata lumpur Sidoarjo bisa menyerap panas hingga dua derajat celsius,” jelasnya. “Setelah saya periksa, para pembuat bata itu ternyata tidak menakar sesuai resep yang saya berikan. Itulah yang membuat bata lumpur cepat rompal,” ujarnya.

Sebab, setelah percobaan gagal tersebut, dia memberikan bimbingan jarak jauh terhadap mahasiswa di Jakarta untuk membuat bata lumpur Sidoarjo. Ternyata, kukuh. Setelah diuji kekuatan di lab Universitas Indonesia, kekuatannya mencapai 40 kg/cm persegi.

Totok terus mencetak batu bata berbahan alternatif lain. Mulai serbuk kayu, tanah tambak, hingga dari kertas. Sayang, penciptaan tersebut masih jadi wacana. Sampai sekarang belum ada aplikasi langsung menggunakan batu bata inovasi tersebut. “Sebenarnya, saya sering membuat pelatihan untuk orang pedesaan cara pembuatan batu bata ini,” kata Totok.

Mulanya, mereka sangat antusias mengikuti pelatihan. Namun, mereka tak kunjung mempraktikkan. “Salah satunya, ya karena mereka tidak begitu yakin sama prosesnya yang tanpa dibakar. Mereka tidak yakin kekuatan batu bata tanpa dibakar tersebut,” jelasnya.

Padahal, kalau hanya soal kuat, itu persoalan mudah. “Tinggal tambahkan banyak semen, pasti kuat,” ujarnya. Totok mengaku tak sanggup memasarkan sendiri hasil temuannya. “Jiwa saya ini peneliti, bukan marketing,” katanya.

Keberhasilan Totok membuat batu bata dari bahan alternatif itu sebenarnya berangkat dari kuliah yang gagal. Musim dingin di Prancis pada 1989, tahun ketiga Totok menetap di negara menara Eiffel itu. Dosen ITS yang kala itu baru menginjak 34 tahun tersebut tengah menempuh studi di Institut National des Science Appliquees (INSA), Lyon, Prancis.

Mengantongi beasiswa, Totok belajar mengenai material science, ilmu yang tidak dia dapatkan di almamaternya. Tahun ketiga itu adalah tahun penegasan bagi Totok. Sebab, makin lama belajar, dia merasa makin tak bisa menyerap ilmunya.

“Itu bukan bidang saya. Lagi pula, teknologi yang diajarkan terlalu tinggi. Susah diaplikasikan di Indonesia,” katanya. Kuliahnya pun kacau. Dia gagal menyandang gelar dari institut tersebut.

Namun, Totok tak ingin pulang dengan tangan hampa. Setelah beasiswa habis, dia tak langsung balik ke Indonesia. Dia menambah ilmu sendiri, mengambil kursus khusus pembuatan batu bata di sebuah sekolah arsitektur di Grenoble.

“Saya pilih mendalami pembuatan bata tanah liat karena material tersebut yang paling mungkin dikembangkan di Indonesia,” tuturnya. Dia resmi terdaftar di sekolah tersebut pada 1990. Tahun itu juga dia kembali ke Indonesia.

Kursus tersebut menekankan pada pemakaian bahan-bahan lokal. Materi itu lalu dicampur bahan-bahan lain, salah satunya kapur dan semen. Setelah dipadatkan, adonan dikeringkan dengan metode auto clave (pengeringan dengan uap air).

Waktu itu, Prancis memang sedang mengembangkan material hemat biaya. Penggunaan bahan lokal akan menekan biaya transportasi. Dengan demikian, harga bahan makin hemat.

Tidak hanya ramah kantong, tanpa pemanasan membuat produk tersebut hemat energi, sumber daya alam, dan ramah lingkungan. “Pemikiran itu didasarkan pada kenyataan bahwa 40 persen sumber daya alam dunia tersedot untuk pembuatan konstruksi, termasuk bahan bangunan, per tahun,” jelas Totok.

Sumber daya alam itu mulai tanah, kerikil, air, hutan, termasuk minyak. Kebutuhan tersebut sangat mungkin meningkat dari tahun ke tahun. Bila hal itu terus-menerus terjadi, sumber daya alam bisa terkikis habis. “Itu belum termasuk polusi yang disebar akibat pembuatan bahan-bahan bangunan tersebut,” ungkapnya.

Ilmu yang diperoleh Totok itu idealnya bisa dikembangkan di tanah air. “Batu bata lokal umumnya menggunakan tanah liat dari lahan subur. Pembuatannya kerap dilakukan di desa dan dipadatkan dengan jalan dibakar. Ilmu ini bisa memberikan pengembangan,” jelas suami Lintang Trenggonowati tersebut. (cfu)

READ MORE - Vincentius Totok Noerwasito dan Inovasi Batu Bata dari Bahan Alternatif

Program Energi Terbarukan Untuk Masyarakat

Sumber

Surabaya (ANTARA News) – Program energi terbarukan bagi masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai dikembangkan untuk mengurangi kapasitas energi listrik yang dibebankan pada PLN.

Guru besar Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof. Ir. Mochamad Ashari, MEng, PhD, di Surabaya, Senin, mengatakan program energi terbarukan tersebut berupa pemanfaatan energi matahari dan angin yang diubah oleh semacam konverter menjadi energi listrik yang bisa dijual ke PLN setempat.

“Jadi nantinya masyarakat tidak akan mengeluarkan biaya untuk membeli listrik, namun justru mendapatkan tambahan pendapatan dengan menjual energi yang didapat disetiap rumahnya masing-masing,” katanya.

Ia menambahkan, konverter tersebut dipasang di setiap rumah penduduk untuk menampung energi-energi yang didapat dari angin maupun matahari.

Tentunya, untuk lokasi pemasangan konverter terbaik ada di daerah pesisir karena intensitas angin tinggi dan perkotaan untuk mendapatkan sinar matahri yang sangat banyak.

Sementara itu, untuk proses realisasi yang pertama kali akan dilakukan dengan cara pembangunan prototype dulu di laboratorium Teknik Elektro ITS.

“Kami masih coba dengan cara membangun prototype alat tersebut, namun dengan tegangan dibawah 1000 watt. Jika ini berhasil maka akan kami terapkan kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menambahkan untuk saat ini proyek pembangunannya saat ini sudah ada persetujuaan dengan PLN terkait distribusi sehingga diharapkan masyarakat pun juga bisa menerapkannya.

Prof.Ir. Mochamad Ashari, MEng,PhD adalah salah satu guru besar ITS yang akan dikukuhkan pada tanggal 2 November nanti, dua guru besar lain yang juga akan dikukuhkan pada Rabu nanti adalah Prof. Bagus Jaya Santoso , Dr dari jurusan Fisika dan Prof. DR.Ir. Adi Soeprijanto,M.T. dari Teknik elektro Fakultas Teknik Industri ITS.(*)

READ MORE - Program Energi Terbarukan Untuk Masyarakat

ITS Gagas APTECS Satukan Teknologi, Sains, Seni


Sumber

Surabaya (ANTARA News) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar National Seminar On Applied Technology, Science, and Arts (APTECS) di Grha 10 November ITS, Surabaya, Selasa, untuk menyatukan teknologi, sains, dan seni.

APTECS yang pertama kali digelar itu menghadirkan pakar-pakar sains teknologi dan seni dari dalam dan luar negeri serta dibuka dengan pertunjukan spektakuler berupa atraksi “Banjaran Srepeg” oleh tim “Elektro Budoyo” dari jurusan Teknik Elektro ITS.

Dalam seminar akbar yang ditandai Remo Kolosal yang melibatkan siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya dan tim “Elektro Budoyo” itu juga dihadiri Prof Hiyama Takashi dari Kumamoto University, Jepang.

“Saya sangat senang sekali, karena seminar akbar tentang teknologi, sains, dan seni akhirnya bisa terlaksana di ITS,” kata Rektor ITS, Prof. Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD., saat membuka APTECS.

Didampingi Ketua Panitia APTECS, Prof. Imam Robandi, dan Kepala Unit Inkubator Pusat Bisnis Teknologi dan Industri LPPM ITS, Ir. Elly Agustiani, M.Eng., Probo mengatakan ITS memang merupakan sebuah institut yang berbasis teknologi.

“Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kesenian juga bisa dikembangkan di ITS, karena itu seminar dalam rangka Dies Natalis ke-49 ITS itu, juga menjadi perwujudan dari ajang komunitas para peneliti dan pengkaji bidang iptek, sosial, dan seni,” katanya.

APTECS 2009 yang bertema “Keunggulan Pengelolaan Sumber-sumber Energi dalam Menghadapi Krisis Sosial Ekonomi Global” itu dimarakkan dengan diskusi secara sinergis antara peneliti dan praktisi yang terbagi dalam 10 ruang seminar sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Dalam seminar juga ditampilkan stan-stan pameran karya mahasiswa dan hasil riset dosen dalam kurun setahun terakhir, seperti Tugas Akhir (TA) terbaik, PKMT yang menjuarai PIMNAS, hingga seni plastik goreng ala Despro ITS.

Beberapa karya yang dipamerkan antara lain Easy Operating Kursi Gigi (juara PIMNAS 2009 kategori PKMT), Kontrol Kursi Roda Listrik yang Diinterpretasi oleh Gerakan Mata, dan Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan LED Tenaga Surya.(*)

READ MORE - ITS Gagas APTECS Satukan Teknologi, Sains, Seni

ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa

Sumber

Rumah tahan gempa (rumah dome)/ilustrasi. (ANTARA/Regina Safri)
Surabaya (ANTARA News) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah merancang rumah pracetak tahan gempa berkekuatan 6 SR hingga 7,5 SR dengan perkiraan biaya Rp50 juta hingga Rp60 juta.

“Itu harga rumah di wilayah gempa yang bertipe 36 dengan satu lantai, sedangkan harga untuk dua lantai Rp90 juta,” kata Kepala Laboratorium “Concrete and Building Material” Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS, Ir Tavio MS PhD, di Surabaya, Kamis.

Ia mengatakan rumah itu bisa dibuat dalam waktu 3-4 hari oleh 4-5 orang, karena ITS merancang dengan memperhatikan kuat, cepat dibangun, dan berbiaya murah.

“Untuk gempa berkekuatan 8 SR, rumah itu bisa runtuh, tapi nyawa penghuninya selamat karena tidak tertimpa atap rumah. Kalau mau tahan gempa 8 SR, maka harganya agak mahal,” katanya.

Menurut dia, rumah pracetak tahan gempa itu akan diproduksi massal, sehingga harga dan waktu pembangunan bisa lebih murah dan cepat.

Pembangunan rumah beton pracetak itu diawali dengan memasang pondasi telapak, sedangkan pondasi dipasang di atas tanah yang kering, karena tanah lunak hanya akan meningkatkan risiko goncangan gempa.

“Pemasangan kolom pracetak di atas pondasi, sedangkan sambungan antarkolom akan membedakan rumah tahan gempa dan rumah biasa,” katanya.

Untuk memperkuat rumah, sambungan menggunakan baja yang dicampur dengan “fly ash” (abu terbang) yang biasanya diperoleh dari limbah batubara.

Selain itu, beton yang dipakai juga beragregat ringan dengan berat beton kurang dari 1.800 kg per meter kubik.

“Tahap berikutnya adalah pembangunan atap. Untuk wilayah rawan gempa, atap rumah harus terbuat dari bahan yang ringan. ITS sudah merancang atap rumah berbahan zincalume yang merupakan campuran antara besi dan aluminium,” katanya.

Dalam simulasi, katanya, sudah diuji dengan atap berbahan zincalume, ternyata sekuat besi tapi ringan karena terbuat dari aluminium.

“Yang lebih penting lagi, rumah itu tidak panas,” katanya.(Ant/R009)

READ MORE - ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa

Mahasiswa Teknik Sipil ITS Berinovasi Bikin Beton

Sumber

Harga Lebih Murah, Cocok untuk Bangun Apartemen
Lima tim dari Jurusan Teknik Sipil ITS akan bertandang ke Jakarta pekan depan. Mereka bakal bertanding di final lomba beton. Total ada delapan tim yang lolos ke babak final untuk mempresentasikan rancangan beton mereka.

Lima tim itu terdiri atas lima belas mahasiswa. Masing-masing tiga orang. Selama dua bulan terakhir, mereka bekerja keras untuk menciptakan beton inovasi mereka. Sesuai dengan tema lomba, innovation for sustainable high strength concrete, mereka berusaha menciptakan beton yang mempunyai kekuatan tekan lebih dari 40 Mpa, sekaligus terbuat dari material yang sustainable atau berkelanjutan.

Melalui diskusi dan membaca referensi, mereka memutuskan untuk menggunakan fly ash, yaitu limbah hasil batu bara. Bahan yang memang telah tersedia di laboratorium jurusan itu berasal dari PLTU Paiton. Fly ash tersebut mereka gunakan sebagai campuran semen. Sebagai pengganti batu, mereka menggunakan slag atau limbah pabrik baja yang mereka dapatkan dari Ispat Indo.

”Kami bekerja sama mulai dari pencarian bahan hingga proses pembuatan,” tutur Wahyu Candra Prasetya, mahasiswa angkatan 2008, anggota salah satu tim. Dia mengatakan, yang membedakan beton mereka dengan tim lain adalah komposisinya. ”Ada pula beberapa kelompok yang menggunakan copper slag atau limbah pabrik tembaga,” tutur Wahyu. Mereka memilih bahan-bahan tersebut karena lebih murah. Harga fly ash dan slag jauh lebih murah daripada semen dan batu. Bahkan, bila dihitung-hitung, beton ciptaan para mahasiswa ITS itu lebih murah Rp 125 ribu tiap meter kubik daripada beton lain di pasaran dengan kualitas yang sama.

Selain itu, bahan-bahan tersebut mempunyai kemampuan untuk mengikat agregat lebih baik. Beton mereka juga merupakan hasil pemanfaatan limbah yang sering terbuang percuma. Bahkan, limbah slag di Ispat Indo pun bertumpuk di sepetak lahan seluas sebuah lapangan sepak bola.

Sebelumnya, Wahyu pernah membeli slag dari Ispat Indo untuk lomba beton yang diadakan oleh UK Petra beberapa waktu lalu. Namun, untuk lomba yang berikut ini, dia dan teman-temannya sempat mengalami masalah.

Gara-garanya, salah seorang temannya mengambil foto dengan kamera digital di sekitar lokasi pembuangan slag. Ispat Indo curiga. “Namun, setelah saya menjelaskan maksud kami yang sebenarnya, Ispat Indo malah tertarik untuk mengajak kami bekerja sama,” cerita Wahyu, lantas tersenyum.

Selain menggunakan dua material tersebut, mereka juga menggunakan pasir dari Lumajang. Menurut mereka, kualitas fisik pasir tersebut bagus. Butirannya keras dan tidak mengandung lumpur yang dapat memisahkan semen dengan agregat. Kerikil mereka dapatkan dari daerah Pasuruan yang mempunyai bentuk kubistis dan tidak pipih. Bentuk kubistis itu meyakinkan ikatan yang kuat antarkomponen beton. Setelah dicuci untuk menghilangkan lumpur, seluruh bahan dijemur. Kemudian, seluruhnya dicampur dalam mesin molen dan dicetak dalam bentuk silinder dengan panjang 30 cm dan diameter 15 cm. Silinder-silinder tersebut lantas mereka rendam dalam air selama 7-21 hari sebagai proses hidrasi untuk menyatukan seluruh komponen dengan air.

Wahyu menjelaskan, karena kuat, beton tersebut sangat cocok digunakan untuk bangunan-bangunan tinggi, seperti apartemen dan gedung pencakar langit. Selain itu, beton tersebut bisa digunakan untuk infrastruktur yang membutuhkan ketahanan kekuatan tinggi, misalnya Jembatan Suramadu.

Perbandingannya dengan beton yang selama ini biasa dipakai untuk bangunan-bangunan itu terdapat pada sisi biaya, yaitu lebih ekonomis. Dan, tentu saja, bahannya yang merupakan hasil daur ulang limbah industri membuatnya ramah lingkungan. Prosesnya juga sama, tidak lebih rumit daripada pembuatan beton biasa.

Mengenai usia beton itu sendiri, Wahyu belum dapat memastikan. “Perlu riset yang lebih jauh untuk mengetahuinya,” ujar dia. Tetapi, usia beton tersebut diperkirakan akan mirip dengan beton yang digunakan untuk Suramadu, yaitu lebih dari seratus tahun. (lis/c9/oni)

READ MORE - Mahasiswa Teknik Sipil ITS Berinovasi Bikin Beton

Jembatan Nekat ala ITS


Sumber
Rifa Nadia Nurfuadah – Okezone

JAKARTA – Meski belum menguasai materi ilmu jembatan, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya nekat membangun jembatan. Hebatnya, rancangan tim yang dinamai Mahagama ini bahkan melaju ke babak final Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2010, 6 September mendatang di Politeknik Negeri Jakarta.

Prayogi Purna Pandhega, Deni Ervianto, Diggy Afrizal dan Lina Febrianti membuat rancangan jembatan menggunakan perangkat lunak Structure Analysis Program (SAP). “Kebetulan ada anggota yang mahir memakai SAP,” ungkap Prayogi seperti dikutip dari situs ITS, Senin (9/8/2010).

Berdasarkan hasil analisa SAP tersebut, mereka mendapatkan model jembatan delapan segmen dengan konstruksi rangka batang lebih kuat dibandingkan model lainnya.

Ada tiga kategori yang dilombakan dalam KJI 2010, yaitu kategori jembatan baja, jembatan kayu dan jembatan bentang panjang. Tim Mahagama ITS mengikuti kategori jembatan kayu yang mengharuskan mereka merancang jembatan berbahan kayu dengan ukuran 16×3 meter dengan tinggi tiga meter. Yang akan diikutkan dalam kompetisi adalah model jembatan dengan ukuran 4×0,7 meter dengan tinggi setengah meter.

Selain kekuatan jembatan, juri juga akan menilai aspek estetika, dan biaya yang diperlukan dalam rancang bangun jembatan tiap peserta kompetisi. Oleh karena itu para peserta tidak bisa sembarangan menentukan konstruksi dan bahan yang digunakan. terlebih, nantinya tiap model jembatan akan diuji dengan beban seberat 250 kilogram pada pada bagian seperempat, setengah dan tiga perempat panjang jembatan. Defleksi maksimum yang diizinkan hanya sebesar satu sentimeter.

Berat total kayu yang digunakan maksimal 76 kilogram, sedangkan berat sambungan plat maksimal 6,5 kilogram. Sementara, berat total jembatan yang dilombakan tidak boleh lebih dari 125 kilogram. Tim Mahagama ITS menggunakan kayu kamper karena selain kuat, harganya pun relatif murah.

Meski masih terhambat pada penggalangan dana untuk membuat model jembatan, Tim Mahagama ITS yakin mampu meraih gelar. “Kami sangat optimis. Apalagi tahun kemarin, Sipil ITS juga meraih juara tiga nasional,” pungkas Prayogi.(rhs)

READ MORE - Jembatan Nekat ala ITS

Inovasi Rumah Tahan Gempa dari ITS

Sumber

JAKARTA – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya membuat konsep rumah joglo yang mampu meredam goncangan gempa. Inovasi ini bahkan menjadi salah satu finalis dalam Kontes Bangunan Gedung Indonesia (KGBI) 2010.

Tim ITS yang tergabung dalam Tim S51 digawangi Wahyu Candra Prasetya, Agus Hendra Pramuji dan Agin Abduh Khaer. Mereka mengembangkan rumah joglo sebagai rumah tahan gempa berdasarkan hasil riset dan studi pustaka yang menunjukkan tidak adanya kerusakan pada rumah joglo pascagempa Yogya, 2006 silam. “Ternyata dengan konstruksi dasar dari kayu mampu meredam getaran akibat gempa,” ungkap Wahyu mewakili timnya seperti dikutip dari situs ITS, Senin (9/8/2010).

Rumah joglo yang dibuat Tim S51 ITS merupakan rumah joglo dua lantai dengan ukuran 6×9 meter dengan tiga kamar. Rumah joglo tersebut seratus persen menggunakan kayu sebagai bahan konstruksinya, termasuk pada sambungannya. Hal ini sesuai dengan tema KGBI 2010 yaitu Rumah Kayu Bertingkat yang Inovatif dan Berdasarkan Kearifan Lokal. “Jika menggunakan sambungan plat besi langsung terkena diskualifikasi,” jelas Wahyu.

Tim yang beranggotakan mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2008 ini menggunakan Kayu Kamper, karena sesuai dengan beban yang digunakan dan harga yang relatif murah karena termasuk jenis kayu kelas dua. Pada KGBI 2010, seluruh tim diminta membawa model bangunan dengan ukuran 1×1,5 meter.

KGBI merupakan perlombaan inovasi dalam teknologi rancang bangun bangunan yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia. Pada penyelenggaraannya yang kedua tahun ini, hanya sembilan tim yang lolos menuju babak final. Tim S51 ITS mengaku optimis pada kompetisi hasil kerjasama Politeknik Negeri Jakarta dengan Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) ini. Final KGBI akan digelar selama dua hari pada 6 September mendatang di Politeknik Negeri Jakarta.(rhs)

READ MORE - Inovasi Rumah Tahan Gempa dari ITS

Mahasiswa ITS Temukan Rancang Beton dari Limbah

Sumber

Mahasiswa ITS Temukan Rancang Beton dari Limbah
Surabaya – Sejumlah mahasiswa ITS Surabaya menemukan rancang beton dari limbah batubara (“fly ash”) dan tembaga (“copper slag”).

“Inovasi itu membuat mahasiswa ITS meraih juara pertama, juara harapan II, dan juara harapan III dari 108 peserta,” kata dosen pembimbing Ir Tavio MS PhD di Surabaya, Kamis.

Juara pertama yang menerima “Concrete Competition Indocement Award 2010″ pada 5 Agustus 2010 Aditya Irwanto, Erlina Yanuarini, dan Fani Bagus. Semuanya mahasiswa Teknik Sipil ITS.

Sementara juara harapan II dalam kompetisi yang sama adalah Wahyu Candra P., Rifdia Arisandi, dan Rachmat Putra J., sedangkan juara harapan III adalah Yusnita Era Ernada, Suryos Ramisda, dan Rizky Purnawaputra.

Tim Aditya dkk menggunakan “copper slag”, sedangkan tim Wahyu dkk menggunakan “fly ash” dan tim Yusnita dkk menggunakan “copper slag” dengan komposisi berbeda daripada tim Aditya dkk.

Menurut Aditya (anggota tim juara pertama), beton “copper slag” dibuat dari bahan baku beton yang umum (semen, air, batu pecah/kerikil, dan pasir), lalu ditambahkan dengan sejumlah substitusi.

Bahan substitusi yang dimaksud adalah “copper slag” sebagai substitusi dari pasir, “fly ash” sebagai substitusi dari semen, dan “glenium C-351″ untuk memudahkan cetakan.

“Copper slag dapat menjadi subtitusi dari pasir dengan perbandingan 100 persen pasir setara dengan 30 persen copper slag. Limbah tembaga itu mudah didapat dari PT Smelting, Gresik,” katanya.

READ MORE - Mahasiswa ITS Temukan Rancang Beton dari Limbah

Harus Diuji Permeabilitas Sebelum Diproduksi Massal

Sumber

Surabaya – Beton ramah lingkungan ciptaam mahasiswa ITS Surabaya siap diproduksi secara masal. Namun, sebelum diproduksi beton ciptaan mahasiswa Fakultas Teknik Sipil ini harus terlebih dulu diuji permeabilitas dahulu.

Karya yang telah memenangkan juara 1 dalam Indocement Awards ini, ini perlu diuji supaya mereka tahu umur maksimal beton.

“Beton ini siap diproduksi secara massal. Tapi sebelumnya kami harus mengadakan uji permeabilitas. Untuk sekarang ini, kami masih belum sampat mengukur hingga umur berapa beton kami mampu bekerja dengan baik,” kata Erlina Yanuarti, saat mempresentasikan produknya di laboratorium Beton, Teknik Sipil, Kamis (19/8/2010).

Saat ditanya apa yang mereka khawatirkan atas kualitas beton ini, mereka mengaku masih berpikiran positif. Meski tidak ditemani kawan satu timnya, Aditya Irwanto, keduanya terlihat yakin saat memaparkan presentasi. “So far so good, tapi nanti secepatnya kami akan adakan uji permeabilitasnya,” kata Bagus.

Prestasi mahasiswa semeter VII Teknik Sipil ITS ini patut diacungi jempol. Pasalnya, usaha mereka ini mampu menyingkirkan 108 peserta lainnya dalam Indocement Awards.

“Kami yakin saja. Yang penting apa yang kami hasilkan ini bisa lebih bermanfaat untuk masyarakat. Beton kami ini sangat efektif bila digunakan untuk membangun gedung bertingkat hingga perumahan,” ujar Erlina mantap.

READ MORE - Harus Diuji Permeabilitas Sebelum Diproduksi Massal

Tanadi Santoso Beber Kunci Technopreneurship di ITS

Sumber

SURABAYA – Kunci pertama bertechnopreneur adalah Mental Model. Memiliki mental kuat untuk memulai technopreneur, karena kenyataan bukan hal yang kita lihat tetapi yang kita yakini.

http://kampus.okezone.com/read/2010/09/22/373/374721/tanadi-santoso-beber-kunci-technopreneurship-di-its – Hal tersebut disampaikan technopreneur Tanadi Santoso, MBA., di hadapan sekira 700 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Selasa 21 September.

Technopreneurship adalah wirausaha berbasis teknologi. Hingga saat ini topik technopreneurship masih mendominasi di berbagai perguruan tinggi. ITS bahkan menjadikan Pengantar Technopreneurship menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa diploma dan sarjana.



Tanadi menilai, ITS menjadi titik yang paling cocok sebagai pusat technopreneurship khususnya di wilayah Jawa Timur. “Kampus ini sudah punya tiga L, yakni Lahir, Latih, dan Lingkungan,” jelas Tanadi kepada okezone.



Pria yang pernah menekuni bidang Civil Engineering tersebut menjelaskan, “Lahir” yang dimaksud adalah berarti mahasiswa ITS sudah membawa modal kecerdasan. Sementara, “Latih” bermakna fasilitas latihan berteknopreneur yang memadahi, salah satunya tenaga pengajar yang sangat berpengalaman. Sedangkan “Lingkungan” mengandung maksud bahwa lingkungan yang terbangun di kalangan civitas akademik sudah sangat mendukung terjalinnya networking. Nantinya, networking ini juga menjadi salah satu modal utama dalam bertechnopreneurship.



“Walaupun ketiganya sangat bisa saling mempengaruhi, tapi saya yakin tiga L di sini sudah bagus,” imbuh Tanadi.



Tanadi membawakan materi dengan tema Strategi Inovasi dalam Pengembangan Technopreneurship. Pria yang dikenal dengan Business Wisdom-nya ini pun tidak pelit memberi motivasi dan berbagi pengetahuan tentang inovasi dan pengembangannya.(rhs)

READ MORE - Tanadi Santoso Beber Kunci Technopreneurship di ITS

Dosen Arsitektur Sulap Limbah Kertas Jadi Bata

Sumber

Para peneliti dari ITS tak pernah lelah berinovasi dan memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya, seperti yang baru dilakukan oleh dosen Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini. Bangunan Berdinding Bahan Bubur Kertas yang Tahan Gempa, begitulah judul penelitiannya.

Pemanfaatan bahan alternatif berupa limbah untuk dijadikan batu bata bukanlah eksperimen yang pertama kali dilakukan oleh bapak tiga anak ini. Sebelumnya, berbagai macam limbah telah ia sulap menjadi batu bata. Antara lain dari abu tebu, abu serbuk kayu, serta tanah tambak. “Daripada limbah kertas terbuang percuma, lebih baik dimanfaatkan,” ungkap pemilik nama lengkap Dr Ir Vincentius Totok Noerwasito MT ini.

Bahkan, ketika sedang terjadi bencana lumpur di Sidoarjo pada tahun 2006, Totok juga membuat lumpur tersebut sebagai bahan batu bata.

Totok sempat membuat contoh bangunan dari bata lumpur itu berupa bangunan kecil seperti gardu di belakang Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS. Ternyata, kualitasnya tidak begitu bagus. Namun, Totok tak kehabisan ide. Ia olah lagi sisa-sisa bata yang hancur tersebut menjadi bata yang baru.

Ditemui ITS Online di ruang kerjanya di kampus, Totok memperlihatkan beberapa buah batu bata ciptaannya dari beraneka macam limbah tersebut. Ia tunjukkan pula pembandingnya, yaitu salah satu batu bata ringan produksi Indonesia dengan teknologi Jerman sebagai pembanding. Sementara itu, beberapa foto batu bata hasil penelitiannya tersebut juga terpampang di dinding belakang kursi kerjanya.

Keberhasilannya dalam membuat batu bata dari bahan alternatif itu sebenarnya berangkat dari studi di Institut National des Science Appliquees (INSA), Lyon, Prancis pada tahun 1989. Disana, Totok belajar mengenai Material Science (Sains Material), ilmu yang tidak ia dapatkan di almamaternya.

Dia mengambil kursus khusus pembuatan batu bata di sebuah sekolah arsitektur di Grenoble. “Saya pilih mendalami pembuatan bata tanah liat karena material tersebut yang paling mungkin dikembangkan di Indonesia,” tuturnya. Akhirnya, pada tahun 1998, penelitian pertamanya mengenai batu bata berhasil.

Karena itu pula Totok beberapa kali mendapatkan dana penelitian untuk mengembangkan material bata dari bahan baku yang berbeda-beda. Salah satunya limbah kertas yang menjadi topik penelitian tahun ini. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) pun memberikan dana untuk penelitian itu sebesar 50 juta rupiah. “Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih lima bulan terakhir dan baru selesai pada bulan Desember ini,” terang Totok.

suami dari Lintang Trenggonowati ini mengungkapkan bahwa kertas apapun yang tidak terpakai atau rusak, sangat dianjurkan untuk dimanfaatkan menjadi bata. Melimpahnya limbah kertas di perkotaanlah penyebab utama Totok melakukan eksperimen ini. Limbah kertas yang ada di Jurusan tempat ia mengajar pun ia jadikan sebagai bahan baku pembuatan bata.

“Saya melakukan percobaan tersebut di laboratorium yang ia ciptakan sendiri di belakang rumah,” aku Totok. Cara pembuatannya yaitu menghancurkan limbah kertas tersebut, kemudian dicampur dengan semen, dan dipress, kemudian dicetak. Dalam sehari, ia bisa memproduksi satu buah bata. Totok juga menyampaikan bahwa keunggulan dari penggunaan limbah kertas yang diolah menjadi ‘bubur’ ini adalah lebih ringan, serta bila terkena gempa dan roboh tidak terlalu keras seperti bata biasa.

Ke depannya, ia berencana membuat rumah berdinding bata dari kertas bekas ini untuk mengenalkan karyanya pada masyarakat, seperti yang pernah ia lakukan ketika membuat rumah berdinding bata dari lumpur Lapindo Sidoarjo. Totok pun menambahkan bahwa selain melakukan penelitian, ia juga pernah menyosialisasikan dan mengaplikasikan langsung penggunaan bata dari bahan alternatif pada rumah penduduk di Kraksaan, Probolinggo.

Rumah berdinding bata tahan gempa ini akan cocok diaplikasikan di perkotaan, karena limbah kertas lebih banyak berada di perkotaan. Selain itu, untuk diaplikasikan di pedesaan menjadi tidak efisien energi dan transportasi.

Di akhir wawancara, pria berkacamata ini mengaku tak sanggup memasarkan sendiri hasil temuannya. Oleh karena itu, jelaslah ia nantinya menggandeng pabrik untuk memasarkan bata bubur kertas ini. Rencananya, produk yang belum diberi nama ini akan segera dipatenkan. Juga kemungkinan bekerjasama dengan pihak luar negeri. “Ya, tak menutup kemungkinan untuk itu,” pungkas Totok sambil tersenyum. (m6/hoe)

READ MORE - Dosen Arsitektur Sulap Limbah Kertas Jadi Bata

Rancang Rumah Tahan Gempa Ringan dan Murah

Sumber

Ketika melihat kerusakan yang diakibatkan oleh Gempa Padang tahun 2009, Kepala Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan (LB3), Ir Tavio MS PhD terketuk hatinya. Ia menyaksikan para korban gempa banyak yang terlalu lama terlantarkan di kamp pengungsian. Sebab, rumah ganti yang diberikan oleh pemerintah tidak bisa dibangun dengan cepat.

Ternyata, para pengungsi tidak bisa bertahan di tempat pengungsian terlalu lama. Sebagai hunian, tempat tersebut kurang layak dan nyaman. Karena begitu tidak tahan dengan kondisi di pengungsian, sebagian korban mencoba untuk membangun kembali rumah mereka dari bahan-bahan reruntuhan.

Padahal, bahan-bahan tersebut tidak layak lagi untuk dijadikan material bangunan. Kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh bangunan-bangunan baru tersebut berpotensi lebih parah daripada sebelumnya.

Hal ini juga terjadi karena faktor mobilitas yang cukup susah. Untuk di daerah pedalaman, jarang ada kendaraan yang membawa bahan bangunan dapat masuk hingga ke daerah-daerah tersebut. Ketika pemerintah mulai membangun di daerah pedalaman, terlebih dahulu akses jalan yang baru harus dibangun. Pembangunan ekstra ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Keprihatinan tersebut mengusik Tavio dan sembilan rekannya dari jurusan Teknik Sipil. Mereka pun menggagas model rumah beton tahan gempa tersebut. Ide tersebut mendapat hibah penelitian dari Dikti sebagai penelitian hibah kompetisi untuk tiga tahun, yaitu hingga tahun 2011.

Rumah tersebut terbuat dari material beton ringan, didesain sangat sederhana tetapidengan sambungan-sambungan yang dirancang khusus untuk tahan terhadap goncangan gempa. Tahun 2009, mereka membuat model analitis rumah tersebut. Tahun 2010 ini, mereka mmenguji sambungan-sambungan pada rumah tersebut, sehingga model sambungan yang paling maksimal bisa ditemukan.

“Fokus kami memang pada rumah tinggal,” kata Tavio. Hal ini karena ia melihat bahwa kerusakan yang terbesar memang terjadi pada rumah-rumah tinggal dan rumah toko (ruko).

Sayang, di ITS tidak alat uji dynamic yang tepat untuk menguji ketahanan bagian-bagian tersebut. Mereka harus melakukan pengujian di Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Cileunyi, Jawa Barat.

Akan tetapi, hasil-hasil yang didapatkan memang cukup memuaskan bagi Tavio. Sambungan-sambungan tersebut teruji tahan terhadap goncangan setara dengan gempa skala 7.6 Richter.

Dengan adanya rumah beton tahan gempa tersebut, keadaan tersebut tidak akan terjadi lagi. Pembangunan rumah dapat dilaksanakan oleh beberapa orang saja dalam waktu 2-3 hari. Bahan-bahan pendiri rumah dapat dibawa menggunakan truk kecil atau pick-up, dan disambung di lokasi.

Seperti sebuah mainan bongkar pasang, pemilik rumah hanya perlu menaymbung bagian-bagian rumah tersebut sesuai instruksi. Bagian-bagian tersebut terdiri dari pondasi, balok-balok, kolom, dinding, plat lantai, sloof, hingga rangka atap dari baja ringan dan genteng dengan lapisan untuk insulasi.

Nantinya, Tavio bagian-bagian tersebut dapat terdiri dari berbagai macam model. Sehingga pembeli dapat melakukan mix and match untuk bagian-bagian rumahnya.

Desainnya memang sangat sederhana. “Memang itulah yang diprioritaskan dalam sebuah bangunan tahan gempa,” lanjut pria berkaca mata ini. Ukurannya juga cukup kecil, luasan tipe 45m2. Ada pilihan untuk bangunan satu dan dua lantai. Harga untuk model satu lantai diperkirakan sekitar Rp 50 juta, sementara untuk dua lantai minimal Rp 80 juta.

Semua hasil penelitian tersebut sedang dalam tahap penggabungan dalam sebuah buku. Di tahun 2011, model rumah tersebut diharapkan untuk sudah disempurnakan, disosialisasikan ke berbagai pihak, termasuk industri, hingga siap diproduksi.

Sebenarnya, tim Tavio juga mempertimbangkan untuk mengaplikasikan umah tersebut di daerah rawan tsunami. Tapi membangun rumah untuk dua kondisi tersebut ternyata sangat berlawanan. Rumah di daerah rawan gempa membutuhkan konstruksi yang ringan dan fleksibel. Sementara rumah di daerah rawan tsunami membutuhkan konstruksi yang berat agar tidak mudah terbawa ombak berkekuatan besar.

“Kami tengah berusaha untuk mencari kompromi antara kedua kondisi tersebut,” kata Tavio. Untuk konstruksi rumah tahan gempa ini, pilihan material yang digunakan adalah beton ringan yang kandungan agregatnya bukan kerikil melainkan batu apung. Sehingga beratnya dua kali lebih ringan daripada beton pada umumnya.

Tetapi ternyata beton tersebut masih cukup berat. Tavio berharap beratnya masih dapat diturunkan hingga sekitar setengahnya lagi. Namun apabila memang akan diaplikasikan di daerah rawan tsunami, keringanan beton tersebut patut diperhatikan, agar tidak mudah terbawa arus tsunami.

Tantangan lainnya bagi tim ini adalah menentukan metode perawatan rumah tersebut. Membangun adalah sebuah hal yang cukup mudah. Namun belum tentu para pemilik rumah tersebut akan merawatnya dengan baik. Terutama untuk bagian sambungan-sambungannya yang terbat dari metal, yang rawan berkarat.

Tavio dan timnya masih mempertimbangkan metode yang cocok untuk menjaga ketahanan sambungan-sambungan tersebut. Pilihannya adalah dilapisi dengan cat ataupun coating. Kendalanya, cat mudah terkelupas, sementara bila diberi coating, harganya cukup mahal meskipun lebih tahan lama.

Proses penelitian rumah tahan gempa ini memang masih cukup panjang. Gabungan antara ringan, kuat dan murah adalah kombinasi yang rumit. Namun Tavio dan timnya masih terus optimis untuk mengembangkannya. “Untuk hal yang sempurna memang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit,” tutupnya sembari tersenyum. (lis/bah)

READ MORE - Rancang Rumah Tahan Gempa Ringan dan Murah

Abu Terbang, Tahan Goyang

Sumber

BAHWA beton itu keras, berat, dan kokoh, semua orang tahu. Tapi kenyataan bahwa mutu beton, yang menjadi penyangga belantara kota, masih belum tinggi, itu yang kini jadi perbincangan para ahli kontruksi.

Dan sebuah seminar bertema beton mutu tinggi itu digelar di Hotel Hilton Jakarta dua pekan lalu. Kesimpulannya: kehadiran beton mutu tinggi itu dirindukan. Lazimnya sebutan bergengsi itu diberikan bagi beton dengan kuat tekan lebih dari 600 kg per cm2. Pengujian kekuatannya dilakukan di laboratorium. Kubus beton bersisi 15 cm menopang beban di atasnya. Bila kubus itu mampu menahan beban di atas 600 kg per cm2, dia layak disebut beton mutu tinggi.

Beton mutu tinggi itu belum digunakan di Indonesia. Gedung-gedung jangkung yang ada di Jakarta misalnya, menurut ahli beton kawakan Dr. Wiratman Wangsadinata, paling banter punya kuat tekan 400 kg per cm2, atau sering disebut K-400. Wiratman tak meragukan keandalannya. Kolom-kolom penyangga bangunan bisa dibikin lebih ramping dengan beton bermutu tinggi. “Itu yang selalu diinginkan para arsitek, karena lebih artistik,” ujar Wiratman, konsultan yang membawahkan 300 sarjana teknik sipil dan arsitek itu.

Tidak cuma kekuatannya menahan beban yang menjadi kelebihan beton mutu tinggi. Penelitian Dr F.X. Soepartono di lab Teknik Sipil UI menunjukkan bahwa itu berguna untuk menahan pengaratan pada fondasi, gara-gara air tanah yang asin. “Ini penting diperhatikan untuk bangunan di Jakarta yang tanahnya telah terintrusi air laut,” ujar doktor beton lulusan Lyon Prancis itu. Kehadiran beton mutu tinggi itu di Indonesia memang masih terbatas pada eksperimen dua-tiga tahun terakhir. Hasil penelitian di ITB dan UI cukup menggembirakan. Kedua perguruan tinggi itu bisa menghasilkan racikan beton dengan kuat tekan lebih dari 800 kg per cm2. “Harganya 20% lebih tinggi, tapi kekuatannya empat kali lipat,” ujar Prof Moh. Sahari Besari, dari ITB.

Tiang beton biasa berukuran 1 x 1 meter, menurut Sahari, bisa digantikan dengan beton mutu tinggi 0,5 x 0,5 meter. Beton mutu tinggi itu bisa dibikin dalam pelbagai racikan. Pasir, batu kerikil (atau batu pecahan), semen, dan air, menjadi bahan utamanya. Sebagai bahan tambahannya bisa dipilih bubuk mikrosilika, abu terbang dari limbah pembakaran batu bara dan plasticizer, bahan sintetis yang membuat adukan semen plastis tak mengental.

Pemakaian plasticizer ini umumnya antara 1,5-2,5% dari berat semen. Urusan material menjadi perkara penting untuk membuat beton mutu tinggi. Komposisi pasir dan kerikil, misalnya, harus sesuai betul. “Agar diperoleh adukan beton dengan pori-pori sekecil mungkin,” tutur Sahari. Prinsipnya, lebih kecil pori-pori yang dihasilkan, lebih baik.

Abu terbang limbah pembakaran batu bara dari pembangkit listrik Suralaya, Cilegon, Jawa Barat, dicoba Sahari untuk mengisi celah-celah di antara pasir dan kerikil. Pada adonan beton, abu terbang rupanya juga membantu tugas semen, menambah daya rekat. Pemakaian air dalam racikan beton itu, kata Basri pula, tak boleh berlebihan.

Sebab air yang tak terpakai dalam proses pengerasan akan terserap di tubuh beton, untuk kemudian menguap. Walhasil, muncullah pori-pori yang bisa mengurangi keperkasaan beton. Penggunaan air secara minimum memang bisa membuat adukan beton menjadi kental.

Tapi masalah ini bisa tertanggulangi oleh plasticizer. Dalam eksperimen di ITB, Sahari mengenakan dosis air 28-30%, dan abu terbangnya 0-20% dari berat semen. Yang paling bagus, kata dosen ITB ini, dosis abu terbangnya 10-15%. “Bisa memberikan kuat tekan di atas 1.000 kg per cm2,” ujarnya.

Susut beton akibat fluktuasi suhu, rangkak (memendek) akibat tekanan beban, dan gejala keretakan, bisa ditekan. Dengan kata lain, beton ini lebih padat, lentur, dan tahan goyangan. Seperti halnya Prof Sahari, Soepartono dari UI juga memperhatikan komposisi material dalam percobaan beton mutu tinggi itu. Dia mengenakan dosis air 28-32% dalam adonan beton, dan porsi agregat (pasir dan kerikil) terhadap semen 3,25-3,75 kali lipat — dalam ukuran berat.

Abu terbang yang dipakai di ITB, oleh Soepartono diganti dengan mikrosilika, bubuk yang mengandung 92% oksida silika. Dosisnya tetap 5%. Hasil terbaik, beton dengan kuat tekan 1.040 kg per cm2 yang dicapai Soepartono, diberikan oleh adonan yang dosisnya 32% dan porsi agregat 3,75 kali. Beton yang bermikrosilika ini terbukti sakti menghadapi rendaman larutan garam Magnesium Sulfat.

Selama dua bulan direndam, beton mutu tinggi itu terus mengalami kenaikan kuat tekan, dari 1.040 ke 1.070 kg per cm2. Sedangkan beton mutu rendahan kekuatannya melorot sejauh 27 kg per cm2. Keunggulan itu membuat beton mutu tinggi kini populer di Amerika.

Gedung jangkung Union Square di Seattle dan 311 South Wekkerdrive di Chicago adalah contohnya. Dalam pemakaiannya, beton mutu tinggi itu tak beda dengan yang biasa: dicor, dan besi tulang di dalamnya sebagai penguat. Langkah berani di AS itu agaknya tak gampang ditiru di Indonesia.

“Prakteknya di lapangan masih sulit,” kata Wiratman. Urusannya tak cuma menyangkut biaya ekstra. Pasir dan kerikil yang memenuhi syarat beton mutu tinggi itu, menurut Wiratman, sulit dicari. Putut Trihusodo (Jakarta) dan Ahmad Taufik (Bandung)

READ MORE - Abu Terbang, Tahan Goyang

Kisah Perbetonan di Indonesia


by Iswandaru for everyone

Seminar Tahunan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) di Jakarta beberapa waktu lalu mengangkat topik yang relevan dengan kondisi bangsa Indonesia menghadapi fenomena bencana alam. Topik yang diangkat adalah pengaruh gempa dan angin terhadap struktur. Fenomena bencana alam khususnya gempa bumi yang beberapa tahun terakhir ini sering mengguncang negara kita telah membuat para ahli konstruksi perlu meninjau kembali teknik konstruksi di tanah air.

Relevansi topik kedua yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seminar sebagai penghargaan kepada almar­hum Prof R Rooseno Soerjohadikusumo dan men­deklarasikan seminar ini untuk meme­ringati 100 tahun kelahirannya yang jatuh pada 2 Agustus silam.

Prof Dr (HC) Ir R Rooseno yang terkenal sebagai ”Bapak Konstruksi Beton Indone­sia” dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 2 Agustus 1908. Ayah­nya bernama R Roostamadji yang menjabat sebagai patih di Madiun. Beliau menamakan anak keempat dari lima bersaudara ini Rooseno. Roos merupakan panggilan nama sang ayah, sedangkan Seno diambil dari tokoh wayang purwa Bratasena.

Rooseno melewatkan masa kecilnya di kota kelahirannya, Madiun, dan dibesar­kan oleh ibu tirinya, Raden Ayu Martinah. Rooseno kecil kerap mengamati jembatan besi buatan pemerintah kolonial Hindia-Belanda di atas kali Madiun. Ia sangat kagum terhadap jembatan besi yang dibuat silang menyilang bisa kuat dilintasi beberapa gerbong kereta api.

Mengubah Pikiran

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Technische Hochschul Bandung (cikal bakal Institut Teknologi Bandung), ia mendapat pujian dari Prof Dr Brezenot yang mengatakan bahwa ”mestinya orang Jawa tidak mungkin bisa menguasai ilmu meka­nika”. Tetapi nyatanya Rooseno mampu mengubah pikiran orang Belanda tersebut. Rooseno merupakan satu-satu­nya bumi putra (orang pribumi) di antara 12 mahasiswa yang lulus dari Technische Hoch­schul Bandung pada tanggal 1 Mei 1932 dengan predikat Summa Cum Lau­de (de­ngan pujian sangat memuaskan).
Rooseno mengawali kariernya dengan berwiraswasta di Bandung, mendirikan Bi­ro Insinyur Rooseno dan Soekarno (Pre­siden RI pertama) di Jalan Banceuy pada tahun 1933. Kemudian pada tahun 1935 Rooseno bekerja di Departemen van Verkee en Waterstaat. Di tempat ini Rooseno berhasil menyakinkan atasannya untuk mengutamakan penggunaan beton dalam pembangunan jembatan di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). Alasannya, bahan-bahan dasar beton, seperti pasir, batu pecah, dan kayu pecah dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia sehingga biaya pengadaannya akan masuk ke kantong dan menyejahterakan rakyat.

Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat dua tahun mengajar di ITB sampai awal kemerdekaan. Pada 1 April 1944, Rooseno diangkat menjadi guru besar (kyodju) bidang ilmu beton di Bandung Kogyo Daigaku. Rooseno kemudian hijrah ke Yogyakarta dan di kota Gudheg ini ia tercatat sebagai salah seorang diantara pendiri dan Dekan Fakultas Teknik yang pertama Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pada tahun 1948, Rooseno pindah ke Jakarta, mendirikan Kantor Consulting Engineer. Pada tanggal 26 Maret 1949 ia diangkat menjadi guru besar luar biasa ilmu beton di Universiteit van Indonesia, Fa­kulteit van Technische Watenschap di bandung. Sebagai warga negara yang baik, ia juga menyalurkan aspirasi politiknya dan terlibat aktif di Partai Indonesia Raya pada tahun 1950. Sepanjang kariernya, Rooseno pernah tiga kali menjadi menteri, yakni Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL), Menteri Perhubungan dan Menteri Perekonomian.

Sebagai ilmuwan dan pendidik, ia tetap menggeluti dunia pendidikan hingga ia menjadi Guru besar di ITB dan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, juga Direktur Sekolah tinggi Teknik Nasional di Jakarta. Selama ini sebagai ahli beton bertulang, ia telah banyak menangani berbagai proyek penting seperti jembatan plataran Monas berukuran 45 meter X 45 meter yang dirancang dengan sistem prategangan Freyssi­net, jembatan Semanggi di Jakarta berbentang 50 meter, pelabuhan, gedung pencakar langit dan hotel berbintang. Rooseno juga gemar menulis, tak kurang 33 karya dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Pada tahun 1954, Rooseno menulis buku ajar beton pertama dalam bahasa Indonesia. Beton patekan mulai diperkenalkan di Indonesia oleh Rooseno melalui kuliahnya di ITB dan melalui tulisan-tulisannya dalam majalah Insyinyur Indonesia tahun 1959-an.

Di kalangan perbetonan internasional, Rooseno dikenal sebagai anggota Associ­ation for Bridge and Structural Engineering (IBSE) di Zurich, Swiss, dan Federation International de Preconfreinne (FIP).

Di tanah air, Rooseno mengetuai Tim Rehabilitasi dan pemugaran Candi Boro­budur di Magelang, Jawa tengah tahun 1972 dengan bantuan Unesco dan Interna­tional Consultative Commitee yang ang­gotanya terdiri dari para ahli pemugaran dari Jepang, Amerika Serikat, Belgia, Jer­man dan Indonesia sebagai tuan rumah.

Pemugaran Candi

Pekerjaan pemugaran meliputi pembongkaran dua juta batu dan arca, pema­sang­an pelat-pelat fondasi beton serta sistem”pipa drainase”, dan pemasangan kembali batu dan arca di tempat semula. Pe­nanganan kestabilan lereng bukit Boro­budur oleh dua konsultan Unesco dinilai bertele-tele dan tidak tuntas pada tahun 1975.

Rooseno segera membentuk tim pelaksana teknis baru yang terdiri dari Prof Wiratman, Ir Aziz Djaya­putra, Ir FX Toha dan Ir Indrajati Sidi. Setelah tim tersebut di­setujui oleh International Consultative Commitee, pekerjaan fisik pemugaran candi dimulai pada tanggal 27 April 1976. Pemugaran Candi Borobudur selesai dan diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 23 Februari 1983.

Sepanjang kariernya Rooseno pernah menduduki sejumlah jabatan penting di antaranya, Badan Penasehat Teknis Pem­bangunan (BPTP) DKI dan Gabungan Pelaksana Nasional Seluruh Indonesia (Gapensi) yang beranggotakan lebih dari 30.000 pemborong. Ia seang menyebut dirinya sebagai ”dukun beton” karena ba­nyak pemborong yang datang me­merlukan tenaganya dalam menghadapi persoalan gawat.

Rooseno menikah dengan Raden Ayu Oentari dan pasangan ini dikaruniai enam orang anak dan 18 cucu. Beliau juga menjadi Direktur Utama 3 perusahaan yang di­dirikan, yakni Biro Insyinyur Exacta, NV Freyssinet Indonesia Ltd, dan Biro Oktroi Patent Rooseno.

Pemerintah Republik Indonesia meng­anugerahi Satya Lancana untuk jasa ikut membangun Kompleks Asian Games Gelora Bung Karno di Senayan pada tahun 1962. Penghargaan lain berupa gelar Doktor Honoris causa untuk ilmu teknik diterimanya dari ITB pada tahun 1977, dan ia juga menerima Bintang Mahaputra Utama bersama dengan almarhum Prof Dr Achmad Baiquni (bidang fisika atom) dan Prof Dr J A Katili (bidang ilmu kebumian) pada tahun 1984.

Dalam kehidupannya yang berkecukupan dan tenang, Rooseno leluasa menjalankan kegemarannya membaca dan mengendarai motor besar 650 cc kebanggaannya. Beliau meninggal dunia pada 15 Juni 1996 dalam usia 88 tahun.

Ditulis oleh: Amien Nugroho (peminat teknologi)

Sumber: Suara Merdeka – Teknologi 13 Oktober 2008

READ MORE - Kisah Perbetonan di Indonesia

Beton Polimer Ramah Lingkungan

Sumber

Beton dikenal sebagai material bangunan paling populer yang tersusun dari komposisi utama batuan, air dan semen. Dikenal luas dan populer, karena bahan pembuatnya relatif mudah didapat secara lokal, harganya relatif murah, dan teknologi pembuatannya relatif mudah. Akan tetapi, belakangan ini beton yang kita kenal acap mendapatkan kritik, terlebih dari aktivis lingkungan hidup. Oleh karena itu, banyak para pakar mulai mencari solusi sebagai alternatif bahan-bahan campuran beton. Salah satunya adalah Djuanda Suraatmadja.

Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Ia adalah anak kedua dari 12 saudara. Gelar sarjana tekniknya didapatkan di Fakultas Teknik Sipil ITB (1960). Pada 1971 dan 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun. Kariernya diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992).

Ide awal pemikiran bahan polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja berawal dari ide mencari beton yang memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ketika membuka-buka literatur yang dipunyainya, diketahui bahwa polimer memiliki sifat seperti semen. Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar, dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. Bahan ini berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya. Penggunaan bahan tersebut bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen.

Pada 1975, ia melakukan penelitian mengenai bahan polimer pengganti semen ini. Berkat ketekunan dan kegigihan, penelitian yang dilakukan dengan berbagai ujicoba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di Institur Teknologi Bandung dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Beton polimer yang ditemukan Djuanda Suraatmadja memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air. Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.

Pada 2000, atas hasil karyanya ini Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung. Djuanda Suraatmadja lahir dari keluarga guru di Bandung, pada 3 Januari 1936. Karya penelitiannya yang umum telah diseminarkan dalam bentuk Standar Nasional yang bisa berguna untuk masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas No. 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton tahun 1998. (Lilih Prilian Ari Pranowo)

READ MORE - Beton Polimer Ramah Lingkungan

Prof. Dr. Ir. Rooseno – Bapak Beton Indonesia

Sumber

Tanggal 2 Agustus 2008 merupakan momentum 100 tahun kelahiran Prof Dr (HC) Ir Roosseno. Predikat Bapak Beton Indonesia tepat diberikan kepada Roosseno. Prof. Dr. (HC) Ir. Roosseno (lahir 2 Agustus 1908 – meninggal 15 Juni 1996) adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan dan guru besar Institut Teknologi Bandung. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perhubungan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I. Ia dijuluki sebagai Bapak Beton Indonesia dan dialah yang mengusulkan kepada Presiden Sukarno untuk membentuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia sekaligus ditunjuk menjadi Dekan dari fakultas tersebut pada 17 Juli 1964. ”Sebagai insinyur muda, Roosseno selalu mengutamakan penggunaan beton untuk bangunan teknik sipil karena (ia) berpendapat ‘raw material’ beton mudah diperoleh di Indonesia sehingga harga bangunan dapat menjadi murah.” (Dr Ir FX Supartono, dalam Pembukaan Seminar Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Jakarta, 19 Agustus 2008)

Seminar tahunan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) tahun 2008, telah menetapkan untuk memberi penghargaan kepada almarhum Prof R Roosseno Soerjohadikusumo dan mendedikasikan seminar ini untuk memperingati 100 tahun kelahirannya pada 2 Agustus silam.
Prof.Ir Roosseno adalah pelopor konstruksi beton di Indonesia. Ia juga guru yang baik di bidang ilmu beton, juga profesional dan nasionalis sejati yang selalu mengabdi dan berjuang bagi kemajuan bangsa dan Tanah Air-nya.

Riwayat lebih lengkap tentang Roosseno kini dapat didalami melalui dua buku yang terbit seiring peringatan 100 tahun kelahirannya, yaitu Cakrawala Roosseno karya Eka Budianta dan Roosseno—Jembatan dan Menjembatani (Editor Wiratman Wangsadinata dan G Suprayitno).Penulis lain, Ir. Wiratman dan Suprayitno menghadirkan visi seorang Roosseno, khususnya dalam bidang ilmu teknik, tetapi juga dalam bidang lain, termasuk dalam ilmu perdamaian (polemologi).

Kiprah dalam perkembangan rekayasa teknik, dalam hal ini teknik sipil, di Indonesia. dilakukan antara lain—dalam konteks waktu itu (1963), tatkala menjadi promotor Proklamator—disebut karya-karya teknik sipil yang di dalamnya ada peranan Bung Karno, yakni Gedung Pola, Kompleks Asian Games, Hotel Indonesia, Jakarta By-Pass, Masjid Istiqlal, dan Tugu (Monumen) Nasional. Roosseno dan teknik sipil
Sambil mengenang Roosseno, mau tak mau terkenang juga ilmu teknik sipil, yang sering didefinisikan sebagai disiplin teknik profesional yang berurusan dengan desain, konstruksi, serta pemeliharaan bangunan fisik dan lingkungannya. Di dalamnya termasuk jalan raya, jembatan, bendungan, terusan, dan gedung-gedung. Ini adalah bidang teknik yang paling tua setelah teknik militer dan memang sengaja didefinisikan demikian untuk membedakan dengan teknik militer. Ada yang menyebut, bidang ini berawal antara tahun 4000 dan 2000 sebelum Masehi di Mesir Kuno dan Mesopotamia, yaitu ketika manusia mulai berhenti menjadi makhluk nomaden dan ingin menetap di satu tempat. Karena itu lalu manusia memerlukan rumah. Dari tujuan awal yang simpel tersebut berikutnya lahir karya teknik sipil yang amat mengagumkan, bahkan di antaranya menjadi keajaiban dunia, seperti Piramida Mesir dan dari wilayah Nusantara sendiri Candi Borobudur. Pada abad ke-20, apa yang sering disebut sebagai keajaiban dunia juga kental bernuansa teknik sipil. Menurut Himpunan Insinyur Sipil Amerika (ASCE), karya-karya yang digolongkan keajaiban teknik sipil abad ke-20 adalah Terowongan Channel (Inggris-Perancis), CN Tower (Toronto), Empire State Building (New York), Golden Gate (San Francisco), Bendungan Itaipu (Brasil-Paraguay), Sistem Perlindungan Laut Utara Belanda, dan Terusan Panama. Keajaiban internasional tersebut memperlihatkan kemampuan masyarakat modern untuk mencapai puncak yang sebelumnya tak terjangkau. Capaian itu juga mencibir ucapan yang dikatakan sebelumnya ”Itu tak bisa dikerjakan” (ASCE, Situs www.ce.memphis.edu, 1996/1997). Himpunan di Amerika ini mendapatkan masukan dari pakar teknik terkemuka dari berbagai penjuru dunia untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti desain dan konstruksi yang belum pernah dikerjakan (pioneering), juga kontribusinya bagi kemanusiaan, serta tantangan-tantangan teknik yang berhasil diatasi. Karya-karya yang dipilih memang mengingatkan orang pada Tujuh Keajaiban Dunia masa lalu, yang melukiskan keterpesonaan manusia terhadap karya teknik yang tampaknya menerobos batas alam itu. Sementara keajaiban kuno hanya sedikit saja yang tinggal, keajaiban modern menampilkan warisan teknik sipil terhadap abad ke-20. Dalam perkembangan ilmu teknik sipil yang mengagumkan itulah Roosseno lahir, tumbuh, dan berkarya. Tentu apa yang sekarang berkembang sudah jauh berbeda dengan teknik sipil saat Roosseno hidup.

Namun, kalau harus meringkaskan, prinsip dasar beton masih tetap sama, kata FX Supartono. Unsur-unsurnya tetap semen, air, dan kerikil, hanya saja adonan jauh lebih baik dengan tambahan admixture yang membuat hasil lebih plastis. Pada masa lalu air harus banyak karena kalau tidak banyak adonan tak bisa dituang. Kini, air bisa dibuat lebih sedikit sehingga hasilnya lebih kuat.

Untuk soal kekuatan ini, pada masa Roosseno orang berbicara pada kekuatan 20 MPa (megapascal, atau satu juta pascal; satu pascal melambangkan kekuatan beton yang mampu menahan tekanan sebesar satu kilogram per cm persegi). Kini, angka tersebut sudah berlipat jauh. Namun, yang tidak kalah penting dari pencapaian fisik adalah warisan ilmu dan semangat dari Roosseno kepada generasi penerus. Semasa masih hidup, Bapak Konstruksi Beton kita ini dikenal bisa menjelaskan ilmu-ilmu yang sulit dengan cara penyampaian sederhana. Dengan itu, murid-murid diharapkan lebih terinspirasi lagi, dan semakin cinta mendalami teknik sipil. Sejak bekerka di Department van Verkeer en Waterstaat tahun 1935.Rooseno berhasil meyakinkan atasannya untuk mengutamakan penggunaan beton dalam pembangunan jembatan di Indonesia. Alasannya, bahan-bahan dasar beton, seperti pasir, batu pecah, semen, dan kayu perancah, dapat dibeli di Indonesia sehingga biaya pengadaannya akan masuk kantong dan menyesejahterakan rakyat.

Pada masa pendudukan Jepang, 1 April 1944 Roosseno diangkat menjadi guru besar (kyudju) bidang ilmu beton di Bandung Kogyo Daigaku. Lalu, sebagai orang swasta yang baru hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta, tanggal 26 Maret 1949 ia diangkat menjadi guru besar l;uar biasa ilmu beton di Universiteit Van Indonesi, Faculteit van Technische Wetenschap di Bandung.

READ MORE - Prof. Dr. Ir. Rooseno – Bapak Beton Indonesia

Beton Abu yang Lebih Hijau

sumber:
09 Agustus 2010

WAHYU Candra Prasetya bersama dua rekannya memasukkan bahan-bahan bangunan ke dalam molen. Selain semen dan pasir, ditambahkan limbah sisa industri dalam takaran tertentu. Komposisinya 70 berbanding 30. Lima belas menit kemudian adonan beton dengan mutu tinggi pun siap digunakan. “Cocok untuk bangunan tinggi semacam Jembatan Suramadu,” kata Wahyu sepekan lalu.

Wahyu tidak sedang membuat rumah, bangunan pencakar langit, atau Jembatan Suramadu, yang membentang sejauh 5,4 kilometer. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini berikhtiar menciptakan beton berkekuatan tinggi. “Kuat, murah, dan ramah lingkungan,” kata Ir Tavio, Kepala Laboratorium Beton dan Bahan ITS.

Wahyu adalah anggota salah satu tim dari lima tim Teknik Sipil ITS dalam final lomba Indocement Award 2010 pada 5 Agustus lalu. Keunggulan beton karya anak bangsa ini mampu memangkas biaya pembuatan konstruksi bangunan Rp 125 ribu per meter kubik dibanding beton kualitas serupa di pasaran.

Pembuatan beton kualitas tinggi dengan memanfaatkan limbah industri belum banyak diterapkan di Indonesia. Padahal jumlah limbah industri seperti fly ash, copper slag, abu sekam, atau abu ampas tebu, yang tidak memiliki nilai ekonomis, berlimpah. Misalnya fly ash atau abu sisa pembakaran batu bara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Profesor Triwulan, guru besar ilmu mekanika bahan ITS sekaligus pelopor pemanfaatan limbah industri dalam campuran bahan bangunan, mencatat setiap tahun dua PLTU-yaitu di Suralaya, Banten; dan Paiton, Probolinggo -mampu menghasilkan 2 juta ton fly ash dan 30 ribu slag tembaga. Jika dimanfaatkan, kata Triwulan, “Itu akan membantu meningkatkan kebersihan lingkungan.”

Penelitian Triwulan menyebutkan fly ash bisa digunakan untuk memperkuat tekan beton dengan proporsi campuran kurang-lebih 10 persen dari berat semen. Adapun untuk meningkatkan durabilitas, dipakai proporsi campuran fly ash 30 persen dari berat semen. Tingkat kehalusan fly ash akan berpengaruh terhadap kualitas beton. Semakin halus fly ash, kian kuat juga beton yang dihasilkan.

Nah, inilah yang dilakukan 15 mahasiswa ITS, termasuk Wahyu. Satu tim terdiri atas tiga mahasiswa. Sejak awal Mei lalu, mereka bergelut dengan bahan sisa industri. Dari satu penelitian ke penelitian berikutnya, setiap mahasiswa menentukan takaran yang tepat mencampurkan fly ash ke dalam adonan. Tavio berpendapat, tim pertama (Wahyu Candra Prasetya, Rifdia Arisandi, dan Rachmat Putra) serta tim kedua (Erlina, Aditya Irwanto, dan Fani Bagus) menghasilkan kekuatan beton yang mantap. “Kekuatan mencapai 80 MPa (megapaskal/satuan tekan beton),” kata Tavio.

Beton ciptaan Wahyu adalah campuran limbah baja (slag) dan limbah batu bara (fly ash) yang didatangkan dari PLTU Paiton. Limbah baja digunakan untuk mengganti campuran kerikil pada beton, sedangkan fly ash untuk mengurangi ketergantungan pada semen. Campuran limbah baja dan limbah batu bara ini sengaja digunakan untuk meminimalkan ketergantungan beton pada sumber daya yang tidak bisa diperbarui semisal bahan pembuat semen. “Komposisi ini sengaja dipilih untuk membuat beton dengan kuat tekan 80 MPa,” kata Wahyu.

Tim kedua yang dipimpin Erlina membuat beton dengan komposisi 30 persen limbah tembaga dan 70 persen pasir yang dicampur dengan 15 persen fly ash dan 85 persen semen. Untuk elemen batu, tim ini tetap menggunakan batu kerikil. “Limbah tembaga pasir ini lebih lembut dan mampu mengisi rongga-rongga yang tidak dapat dimasuki pasir,” kata mahasiswa angkatan 2007 ini.

Arsitek Achmad Noerzaman berpendapat, penggunaan fly ash sebagai campuran semen dinilai lebih hemat. “Bisa memangkas penggunaan semen 20-25 persen,” katanya. Fly ash memiliki partikel yang halus sehingga beton bisa lebih padat dan kuat. “Lebih green,” katanya. Tavio menambahkan, beton dengan kualitas tinggi hanya bisa terwujud jika proses hidrasinya ditata dengan baik. “Caranya melakukan penyemprotan air secara berkala pada beton,” katanya.

Rudy Prasetyo, Rohman Taufiq (Surabaya)

READ MORE - Beton Abu yang Lebih Hijau

Phyropilit bahan beton ramah lingkungan

Penggunaan material phyropilit dalam pembuatan beton bangunan diyakini bisa menghemat pemakaian semen sekaligus ramah lingkungan. Phyropilit adalah material dengan kandungan silika yang tinggi dan memiliki ketersediaan cukup banyak (jutaan ton) dan berada pada kawasan luas (ratusan hektar) di Indonesia.

Namun, pemanfaatan phyropilit belum efektif dilakukan khususnya di bidang konstruksi seperti pada proses pembuatan beton. Penggunaan material ini akan mewujudkan beton ramah lingkungan (green concrete) karena mengurangi pelepasan CO2 ke udara sebagai salah satu penyebab rusaknya ozon.

Kesimpulan ini didapat, setelah dilakukan metode pengujian tekan terhadap benda uji laboratorium dan analisa data dengan uji anova serta regresi sehingga dapat diketahui hubungan antara penambahan phyropilit dengan kekuatan beton yang dihasilkan.

Dari penelitian terlihat setiap penambahan variasi phyropilit mulai dari 5 %, 10%, 15% hingga 20% terjadi peningkatan kuat tekan beton mencapai 5% hingga 42%. Setiap penambahan 15% phyropilit menghasilkan kenaikan kuat tekan terbesar dari pada variasi lain mencapai 42%.

Hasil ini menunjukan penambahan phyropolit terhadap beton erat hubungannya dengan peningkatan kekuatan tekan beton. Dengan meningkatnya kuat tekan beton terlihat pada indikasi penghematan penggunaan semen dimana pada beton fc` target 25 Mpa dengan variasi 15% phyropilit mampu menghasilkan beton dengan kekuatan fc` 36 Mpa.

READ MORE - Phyropilit bahan beton ramah lingkungan

Betonku yang hijau

Oleh : Ridho Bayuaji

Beton adalah tulang punggung bahan konstruksi yang paling banyak digunakan, seperti mega proyek: Hoover Dam, Petronas Towers, dan Dames Point Bridge.

Definisi secara umum beton adalah gabungan dari agregat, semen portland, air dan bahan tambahn untuk memperbaiki karakternya sesuai dengan fungsinya.

Semen portland adalah unsur kunci dari beton, bahan hidrolik yang terdiri dari paling sedikit dua pertiga oleh massa kalsium silikat (3CaO.SiO2 dan 2CaO.SiO2).

Dalam tiga dekade terakhir, penggunaan semen portland sebagai bahan pengikat (binder) dalam campuran beton sering dikritik oleh kalangan peduli pelestarian lingkungan. Hal ini terkait dengan pemanasan global yang semakin meningkat. Pemanasan global disebabkan oleh efek rumah kaca, seperti CO2 (karbon dioksida), yang terjadi akibat aktivitas manusia, seperti proses produksi semen portland.

Dari 1 ton semen portland yang dihasilkan, akan diproduksi ± 1 ton CO2 [Roy DM, 1999], yang akan dilepaskan ke udara.

Fakta ini menunjukkan bahwa industri semen portland ekonomi, energi dan masalah lingkungan (lebih dari 6% dari total emisi CO2 di seluruh dunia [PBL 2008]).

Juga, telah dilaporkan bahwa struktur beton banyak dibangun pada lingkungan korosif, mulai memburuk setelah 20 sampai 30 tahun, meskipun mereka telah dihitung untuk lebih dari 50 tahun pelayanan kehidupan [Vijai, K,dkk, 2010].

Joseph Davidovits sebagai penemu dan pengembang geopolymerization, merintis material dengan istilah ”geopolymer” dalam 1978 untuk mengklasifikasikan geosynthesis baru ditemukan yang menghasilkan bahan polimer anorganik [Davidovits J, 2002].

Aplikasi geopolimer lingkungan termotivasi didasarkan pada semen geopolimer dengan sangat rendah emisi CO2.

Geo-polimer beton adalah solusi cemerlang dalam mengatasi dengan tidak menggunakan semen portland, sehingga keberlanjutan diwariskan dalam penggunaannya.

Geopolimer semen dapat disintesis dengan mencampur proporsi sesuai bahan reaktif aluminosilikat dengan bahan aktivator alkali seperti NaOH, KOH, Na / K silikat [Witherspoon R,2009], hal ini diikuti oleh curing pada suhu kamar atau rendah (kurang dari 90 ° C). Aluminosilikat mungkin dalam bentuk abu terbang, sebuah oleh industri-produk, atau sumber lain seperti metakaolin dan lempung reaktif.

READ MORE - Betonku yang hijau

Halaman