Wednesday, January 19, 2011

Abu Terbang, Tahan Goyang

Sumber

BAHWA beton itu keras, berat, dan kokoh, semua orang tahu. Tapi kenyataan bahwa mutu beton, yang menjadi penyangga belantara kota, masih belum tinggi, itu yang kini jadi perbincangan para ahli kontruksi.

Dan sebuah seminar bertema beton mutu tinggi itu digelar di Hotel Hilton Jakarta dua pekan lalu. Kesimpulannya: kehadiran beton mutu tinggi itu dirindukan. Lazimnya sebutan bergengsi itu diberikan bagi beton dengan kuat tekan lebih dari 600 kg per cm2. Pengujian kekuatannya dilakukan di laboratorium. Kubus beton bersisi 15 cm menopang beban di atasnya. Bila kubus itu mampu menahan beban di atas 600 kg per cm2, dia layak disebut beton mutu tinggi.

Beton mutu tinggi itu belum digunakan di Indonesia. Gedung-gedung jangkung yang ada di Jakarta misalnya, menurut ahli beton kawakan Dr. Wiratman Wangsadinata, paling banter punya kuat tekan 400 kg per cm2, atau sering disebut K-400. Wiratman tak meragukan keandalannya. Kolom-kolom penyangga bangunan bisa dibikin lebih ramping dengan beton bermutu tinggi. “Itu yang selalu diinginkan para arsitek, karena lebih artistik,” ujar Wiratman, konsultan yang membawahkan 300 sarjana teknik sipil dan arsitek itu.

Tidak cuma kekuatannya menahan beban yang menjadi kelebihan beton mutu tinggi. Penelitian Dr F.X. Soepartono di lab Teknik Sipil UI menunjukkan bahwa itu berguna untuk menahan pengaratan pada fondasi, gara-gara air tanah yang asin. “Ini penting diperhatikan untuk bangunan di Jakarta yang tanahnya telah terintrusi air laut,” ujar doktor beton lulusan Lyon Prancis itu. Kehadiran beton mutu tinggi itu di Indonesia memang masih terbatas pada eksperimen dua-tiga tahun terakhir. Hasil penelitian di ITB dan UI cukup menggembirakan. Kedua perguruan tinggi itu bisa menghasilkan racikan beton dengan kuat tekan lebih dari 800 kg per cm2. “Harganya 20% lebih tinggi, tapi kekuatannya empat kali lipat,” ujar Prof Moh. Sahari Besari, dari ITB.

Tiang beton biasa berukuran 1 x 1 meter, menurut Sahari, bisa digantikan dengan beton mutu tinggi 0,5 x 0,5 meter. Beton mutu tinggi itu bisa dibikin dalam pelbagai racikan. Pasir, batu kerikil (atau batu pecahan), semen, dan air, menjadi bahan utamanya. Sebagai bahan tambahannya bisa dipilih bubuk mikrosilika, abu terbang dari limbah pembakaran batu bara dan plasticizer, bahan sintetis yang membuat adukan semen plastis tak mengental.

Pemakaian plasticizer ini umumnya antara 1,5-2,5% dari berat semen. Urusan material menjadi perkara penting untuk membuat beton mutu tinggi. Komposisi pasir dan kerikil, misalnya, harus sesuai betul. “Agar diperoleh adukan beton dengan pori-pori sekecil mungkin,” tutur Sahari. Prinsipnya, lebih kecil pori-pori yang dihasilkan, lebih baik.

Abu terbang limbah pembakaran batu bara dari pembangkit listrik Suralaya, Cilegon, Jawa Barat, dicoba Sahari untuk mengisi celah-celah di antara pasir dan kerikil. Pada adonan beton, abu terbang rupanya juga membantu tugas semen, menambah daya rekat. Pemakaian air dalam racikan beton itu, kata Basri pula, tak boleh berlebihan.

Sebab air yang tak terpakai dalam proses pengerasan akan terserap di tubuh beton, untuk kemudian menguap. Walhasil, muncullah pori-pori yang bisa mengurangi keperkasaan beton. Penggunaan air secara minimum memang bisa membuat adukan beton menjadi kental.

Tapi masalah ini bisa tertanggulangi oleh plasticizer. Dalam eksperimen di ITB, Sahari mengenakan dosis air 28-30%, dan abu terbangnya 0-20% dari berat semen. Yang paling bagus, kata dosen ITB ini, dosis abu terbangnya 10-15%. “Bisa memberikan kuat tekan di atas 1.000 kg per cm2,” ujarnya.

Susut beton akibat fluktuasi suhu, rangkak (memendek) akibat tekanan beban, dan gejala keretakan, bisa ditekan. Dengan kata lain, beton ini lebih padat, lentur, dan tahan goyangan. Seperti halnya Prof Sahari, Soepartono dari UI juga memperhatikan komposisi material dalam percobaan beton mutu tinggi itu. Dia mengenakan dosis air 28-32% dalam adonan beton, dan porsi agregat (pasir dan kerikil) terhadap semen 3,25-3,75 kali lipat — dalam ukuran berat.

Abu terbang yang dipakai di ITB, oleh Soepartono diganti dengan mikrosilika, bubuk yang mengandung 92% oksida silika. Dosisnya tetap 5%. Hasil terbaik, beton dengan kuat tekan 1.040 kg per cm2 yang dicapai Soepartono, diberikan oleh adonan yang dosisnya 32% dan porsi agregat 3,75 kali. Beton yang bermikrosilika ini terbukti sakti menghadapi rendaman larutan garam Magnesium Sulfat.

Selama dua bulan direndam, beton mutu tinggi itu terus mengalami kenaikan kuat tekan, dari 1.040 ke 1.070 kg per cm2. Sedangkan beton mutu rendahan kekuatannya melorot sejauh 27 kg per cm2. Keunggulan itu membuat beton mutu tinggi kini populer di Amerika.

Gedung jangkung Union Square di Seattle dan 311 South Wekkerdrive di Chicago adalah contohnya. Dalam pemakaiannya, beton mutu tinggi itu tak beda dengan yang biasa: dicor, dan besi tulang di dalamnya sebagai penguat. Langkah berani di AS itu agaknya tak gampang ditiru di Indonesia.

“Prakteknya di lapangan masih sulit,” kata Wiratman. Urusannya tak cuma menyangkut biaya ekstra. Pasir dan kerikil yang memenuhi syarat beton mutu tinggi itu, menurut Wiratman, sulit dicari. Putut Trihusodo (Jakarta) dan Ahmad Taufik (Bandung)

No comments:

Post a Comment

Halaman