Tuesday, February 8, 2011

Menuju Beton Hijau dan Berkelanjutan

Bandung, itb.ac.id - Sebanyak 17 cendekia membahas isu pengembangan beton ramah lingkungan, hari ini (4/12) di Galeri I, Campus Center dalam seminar nasional bertajuk "Sustainabiliti dalam Bidang Material dan Konstruksi Beton". Sejumlah cendekia tersebut adalah akademisi dari berbagai universitas, seperti ITB, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Katolik Soegijapratana, Universitas Pelita Harapan, Universitas Udayana, Universitas Katolik Parahyangan; serta praktisi industri konstruksi dari PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.

Perkembangan ekonomi dunia yang semakin pesat sekarang ini membuat bangunan berbahan beton tumbuh di banyak tempat. Karenanya produksi beton pun meningkat jumlahnya secara signifikan. Sayangnya produksi beton identik dengan 'merusak' lingkungan semata; mulai dari proses menggali batu kapur, proses pembakarannya, emisinya, dsb. Produksi semen pun dinyatakan sebagai penyumbang karbon dioksida terbesar urutan dua dunia -menyumbang tujuh persen- setelah pembangkit listrik. Karenanya perlu senantiasa dikembangkan beton ramah lingkungan sehingga pembangunan tidak perlu berhenti demi lingkungan. Konsep beton yang menunjang pembangunan berkelanjutan inilah yang didiskusikan oleh para cendekia dalam seminar ini.

Solusi yang diungkapkan oleh para cendekia antara lain dengan rekayasa nano (nano-engineering). Hal ini diungkap oleh Prof. Bambang Suhendro dari UGM. Dr. FX Supartono mengungkap banyak solusi pengembangan beton yang ramah lingkungan tanpa mengorbankan kualitas beton; dengan mengurangi proporsi semen dalam campuran beton. "Produksi semen mengambil porsi 90 persen pengeluaran energi dalam produksi beton," tutur Supartono. Antara lain, Supartono mengusulkan penggunakan limbah mineral, seperti penggunaan elkem (silicafume), debu terbang (fly ash), sisa bakar logam (blast furnance/metal slag) sebagai campuran dalam pembentukan beton. Ia pun menunjukkan gedung dan jembatan di dalam dan luar negri yang terbukti kuat dan kokoh menggunakan campuran limbah mineral tersebut.

Para cendekia lain di bidang konstruksi bangunan dan produksi beton yang hadir dalam seminar ini, Prof. Roesdiman Soegiarso dari Universitas Tarumanegara, Ir. Iswandi Imran, MASc., Ph.D dari ITB, Dr. Sri Roosyanto dari PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., Prof. Dr. Ing. harianto Hardjasaputra dari Universitas Pelita Harapan, Prof. Bambang Suryoatmono dari Universitas Katolik Parahyangan, Dr. Retno Susilorini dari Universitas Katolik Soegijapranata, Dr. Ir. Puti Farida Marzuki dari ITB, Dr. I made Alit Karyawan Salain dari Universitas Udayana, Dr. Ir. Saptahari Sugiri dari ITB, Dr. Ir. Steenie E. Wallah, MSc. dan Ir. Dody MJ Sumajow, M.Eng, Ph.D, keduanya dari Universitas Sam Ratulangi, Prof. Triwulan dari Institut Teknologi Sepuluh November, serta Ir. Ivindra Pane, MSc., Ph.D dan Ir. Mohamad Abduh, MT., Ph.D, keduanya dari ITB
READ MORE - Menuju Beton Hijau dan Berkelanjutan

Friday, January 21, 2011

More Funding For Green Research

Link

Encana Corporation is supporting efforts by Saint Mary's researcher Dr. Jason Clyburne to develop a safe and inexpensive technology for removing carbon dioxide from industrial gases.

A Saint Mary’s University researcher looking at ways to safely remove carbon dioxide (CO2) from industrial emissions is getting a helping hand from one of the region’s largest offshore players.
Encana Corporation, developers of the Deep Panuke project, has committed $119,000 to help Dr. Jason Clyburne further develop inexpensive designer chemicals - called ionic liquids - which have shown promise for the safe and efficient removal of toxins and environmentally hazardous substances from industrial processes such as burning coal.
“The affordable removal of carbon dioxide from gaseous industrial emissions is one of the holy grails in climate change research,” said Dr. Clyburne. “With Encana’s support, and earlier support by GreenCentre Canada (GCC) and Springboard Atlantic, we can now move from the lab and develop a prototype to see if what we think works, actually does.”
Earlier this year GreenCentre Canada, a national Centre of Excellence for developing and commercializing early-stage Green Chemistry discoveries, awarded Dr. Clyburne $25,000 in Proof of Principle funding toward the commercialization of his ionic liquids. Saint Mary’s partnership with GCC was further leveraged with the success of a second award of $30,000 from Springboard’s Proof of Concept and Patent and Legal funds.
Saint Mary’s University Industry Liaison Officer Gina Funicelli says the University is pursing patent protection that will lead to a license that puts the technology into the hands of industry to help curb, or even eliminate, CO2 emissions from their manufacturing processes.
Ionic liquids are specialized compounds that can trap CO2 from waste streams using much less energy than traditional scrubbing technologies. The CO2 can then be separated from the ionic liquid and stored, allowing the ionic liquid to be recycled to remove additional CO2 from the waste stream. Some ionic liquids are made up from tried and tested commodity chemicals that are inexpensive and easy to access, says Dr. Clyburne.
“If it’s not going to lead to an affordable solution in real life, what’s the point?
The move from beaker to breaking ground with an industrial demonstration unit could take three years. Along the way he said post doctorate and undergraduate students will become experienced in working with greenhouse gases, a vital skill in continuing to develop relevant chemistry to solve environmental problems.
Dr. Clyburne, who is also a Canada Research Chair in Environmental Studies and Materials, said the effort dovetails nicely with the The Maritimes Centre for Green Chemistry, recently established by the University to enhance the undergraduate research experience in Green discovery science.
“There are many environmentally relevant problems that can be solved using green chemistry. If we are successful, this will be a good demonstration that often the simplest solutions are the best ones,” he said.
Encana is financing the work as part of commitment to the province to create spin-off benefits from its Deep Panuke project by funding research, development, education and training.
READ MORE - More Funding For Green Research

Wednesday, January 19, 2011

Batagama, Beton Nonpasir Temuan Tim Teknik Sipil UGM

YOGYAKARTA, SABTU - Tim Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil menemukan beton nonpasir yang diberi nama batagama. Selain mudah dibuat, bobotnya ringan, kedap suara, dan meloloskan air.

"Beton nonpasir adalah bentuk sederhana dari beton ringan yang pembuatannya tidak menyertakan pasir," kata Koordinator Tim Ir Kardiyono Tjokrodimulyo pada peresmian bangunan ruang pamer dari beton nonpasir di Dusun Kemiri Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (26/1).

Kardiyono mengatakan, karena tidak mengandung pasir, maka beton itu menjadi berongga yang bobotnya ringan. Beton nonpasir tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dinding cor, balok dan kolom struktur ringan, buis beton, perkerasan jalan dan barang kerajinan.
"Kelebihannya antara lain proses pembuatan yang mudah, bobot ringan, susutnya sedikit, kedap suara, tekstur permukaan unik dan meloloskan air," katanya.

Beton nonpasir tersebut dibuat dari batuan ringan, hasil muntahan Gunung Merapi yang banyak terdapat di Sungai Boyong. Warga setempat menyebutnya sebagai banthak. "Beton nonpasir ini merupakan penelitian tim yang prosesnya sudah melalui berbagai ujicoba hingga ditemukan batagama," katanya.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Sleman, Ibnu Subiyanto mengatakan penemuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan optimalisasi sumber daya alam.

Menurutnya, saat ini terdapat 25 perajin di Sleman yang menggunakan bahan baku beton nonpasir."Mereka menghasilkan aneka produk seperti pot bunga, tiang penyangga pot, plat dinding, gapura, asbak dan buis beton," kata Ibnu.(ANT/LHW
READ MORE - Batagama, Beton Nonpasir Temuan Tim Teknik Sipil UGM

Beton Anti-retak Dibantu Air Hujan

WASHINGTON, KOMPAS.com - Masalah keretakan pada jalan atau jembatan beton yang sering terjadi jika ada gempa bumi mungkin teratasi dengan material baru yang dikembangkan para peneliti di Universitas Michigan, AS. Material tersebut tidak hanya membuat jalan beton lebih tahan tekanan namun juga anti-retak.

Bahan beton yang dicampur komposit itu menjadi lebih fleksibel. Saat mendapat tekanan yang tinggi, ia mampu melengkung tanpa mengalami keretakan. Kalaupun tejadi, retakannya akan berbentuk garis dan akan pulih dalam waktu singkat hanya dengan doguyur air, termasuk hujan misalnya.

Hal tersebut dapat terjadi karena material kering di bagian yang retak akan bereaksi dengan air hujan dan karbon dioksida dari udara. Reaksi tersebut membentuk kalsium karbonat, senyawa keras yang secara alami biasa ditemukan pada cangkang kerang.

"Material fleksibel ini akan kembali sekuat awalnya setelah dipulihkan," ujar Victor Li, salah satu anggota tim pembuatnya. Ia dan timnya telah 5 tahun melakukan riset beton fleksibel itu dan beberapa sudah digunakan.

Material sejenis sudah dipakai pada kerangka bangunan tertinggi di Osaka, Jepang. Selain itu, beton fleksibel juga sudah dipakai pada jembatan di Interstate 94 Michigan yang dibangun tahun 2006.

Meski demikian, harga beton felsiibel masih tiga kali lipat harga beton standar. Namun, karena lebih tahan tekanan dan getaran, pengembang bisa lebih hemat karena tak perlu memasang alat pendeteksi getaran seismik di sepanjang struktur.

"Penggunaan material ini akan menghemat dalam jangka panjang karena mengurangi ongkos perawatan," ujar L
READ MORE - Beton Anti-retak Dibantu Air Hujan

Dinding Bata Beton Membuat Taman Menjadi Asri

KOMPAS.com - Desain geometris bisa juga Anda terapkan di taman. Kalau tidak sebagai hardscape ya softscape.

Taman mestinya merupakan area yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Untuk membuatnya menjadi seperti itu, taman harus dibuat asri. Dan yang mananya asri itu tak selalu identik dengan taman yang rimbun berbunga-bunga. Taman dengan konsep yang kompak pun bisa menjadi asri.

Padu hunian, taman sepantasnya memiliki komposisi proporsional antara elemen hardscape dan elemen softscape. Sebuah komposisi disebut nyaman, jika kedua elemen hardscape dan softscape itu saling memberikan kekuatan.

Hardscape yang terlalu dominan dapat menigkatkan kesan kaku di taman. Sedangkan softscape yang terlalu banyak justrudapat menghilangkan kesan teritori bangunan yang membatasi ruang taman.

Taman di rumah M. Ibnu Sina ini contohnya. Olahan taman yang didesain oleh tim SUBvisionary relatif simpel. Tak banyak tanaman yang mengisi ruang-ruang taman di area depan rumah. Cukup rumput gajah mini, lidah mertua (Sansevieria sp ), dan Adenium di area pojok kiri rumah.

Softscape yang simpel, tetap terlihat cantik dengan permainan bentuk geometri lantai pijakan berukuran 40cmx40cm yang terbuat dari koral sikat. Pijakan-pijakan berbentuk kotak berjajar ini mengisi bagian tengah "padang" rumput. Kehadirannya memberikan kekuatan ruang pada taman.

Di taman ini, keberadaan jenis tanaman sederhana yang relatif mudah didapatkan terlihat istimewa. Hardscape berupa olahan dinding bata beton yang ditata secara simetris seolah membantu keberadaan sosok tanaman.

Di sini, bata beton dibuat sebagai dinding pembatas taman. Susunannya pun mengambil unsur geometri. Ada celah antarbata sekitar 5cm lebar yang sekaligus seakan menjadi dekorasi dinding. Cahaya lampu sorot diarahkan ke dinding bata beton ini. Suasana sore dan malam pun taman tetap dapat dinikmati keindahannya. (Indra Zaka Permana/iDEA)

READ MORE - Dinding Bata Beton Membuat Taman Menjadi Asri

Habis Genteng Terbitlah Keramik Beton


PURWAKARTA, KOMPAS.com Bangkrutnya puluhan pabrik genteng di sentra industri genteng Tegalwaru dan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, lima tahun terakhir ini, membangkitkan sebagian pengusaha membuat produk baru. Setelah genteng tanah liat kian tak laku, mereka beralih ke keramik beton.

Keramik beton, yang di pasaran terkenal dengan sebutan keraton, menjadi alternatif bahan untuk bangunan bertingkat. Selain lebih murah ongkos dan lebih cepat pemasangannya, keraton juga dinilai lebih tahan getaran dan gempa.

"Ada 4-6 pengusaha yang sekarang memproduksi keraton di sentra ini. Keraton telah diuji coba tahun 1976 dan dikembangkan tahun 1980-an, kian populer beberapa tahun terakhir," ujar Nasan, pemilik pabrik keraton di Desa Cadasmekar, Kecamatan Tegalwaru, Rabu (4/8/2010).

Krisis bahan bakar pascakenaikan harga minyak tahun 2005 memicu rontoknya puluhan pabrik genteng di Purwakarta. Kantor Litbang Genteng dan Bata Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta mencatat, tahun 2004 terdapat 270 unit usaha genteng dengan 13.016 pekerja. Kenaikan harga bahan bakar minyak pada Oktober 2005 menghancurkan puluhan pabrik. Tahun 2006 jumlahnya tinggal 187 unit dan terus menurun hingga 130 unit dengan 3.162 pekerja pada 2009.

Ketika permintaan genteng tanah liat terus menurun seiring semakin maraknya produk atap modern berbahan fiber, plastik, atau beton, sebagian pengusaha mulai mendiversifikasi produk. Mereka antara lain mengembangkan keramik beton, keramik dinding, ubin terakota, dan roster.

READ MORE - Habis Genteng Terbitlah Keramik Beton

Jalan Raya Kini Bisa Serap Polusi Udara

Sumber

VIVAnews - Sejumlah ilmuwan di Eindhoven University of Technology, Belanda tengah mengembangkan beton berlapis titanium dioksida yang dapat menghilangkan nitrogen oksida yang ada di udara.

Nitrogen oksida adalah hasil keluaran dari bensin yang dibakar pada temperatur tinggi, yang terjadi di mesin kendaraan otomotif. Oksida ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, misalnya sesak nafas.

Selain itu, nitrogen oksida juga bertanggungjawab atas masalah lingkungan lainnya, termasuk asap kabut serta kerusakan ozon.

Seperti dikutip dari BrightSideofNews, 15 Agustus 2010, material yang digunakan pada jalanan beton menggunakan sinar matahari untuk mengkonversi nitrogen oksida ke bentuk nitrat yang membersihkan udara.

Titanium dioksida, yang sering ditemukan pada cat, adalah bahan kimia yang mampu membersihkan diri sendiri yang akan merusak algae dan debu, membuat permukaan jalan tetap bersih sambil udara dibersihkan.

Setelah beberapa kali berhasil diujicoba di laboratorium, material itu telah digunakan melapisi sebagian ruas jalan di Hengelo, Belanda. Sebagian jalan dengan luas serupa dibiarkan menggunakan beton biasa, dan kemudian sampel udara di sekitarnya diambil.

Peralatan uji coba membuktikan material baru yang ditemukan tersebut memang membersihkan udara.

Yang menarik, material baru itu juga bisa digabungkan dengan aspal, jika jalan itu tak memakai beton. Tentu biayanya lebih mahal dibandingkan tidak dilapisi material pembersih udara.

Dalam upaya serupa menemukan material yang antipolusi, peneliti asal China mengembangkan polimer berteknologi nano.

Meski pencarian teknologi mengurangi, atau menghilangkan kotoran dari udara terus dilakukan, kita tetap harus mencari cara mengurangi atau menghilangkan sumber polusi.

• VIVAnews
READ MORE - Jalan Raya Kini Bisa Serap Polusi Udara

Halaman